KIAT-KIAT PENTING DALAM BERKELUARGA

10 KIAT MENCIPTAKAN KELUARGA HARMONIS

1.Terima kekurangan dan kelebihan pasangan masing-masing.

Disini keikhlasan sangat penting, seperti pada kalimat: Cinta itu buta. Tapi bukan berarti dibutakan oleh cinta, melainkan cinta itu tidak memandang harkat, martabat, pangkat maupun status sosial lainnya. Cinta juga tak mengenal kata: Tapi. Cinta itu hadir didalam hati yang suci, menepis segala anggapan: Dia itu gendut, kurus, hitam dll. Hati tidak mengenal bentuk-bentuk, sekali ia berkata A maka seluruh anggota badan ikut berkata A, sebab hati itu ibarat raja dalam tubuh manusia, jadi baik kekurangan maupun kelebihan tidak dapat mempengaruhinya.

2.Saling percaya satu sama lain.

Kadang kepercayaan begitu mahal harganya dalam berumah tangga, orang tidak mudah percaya dengan bentuk ucapan jika belum sepenuhnya melihat dengan mata kepala sendiri, itu manusiawi. Namun disini dituntut untuk memiliki amanah kepercayaan kepada pasangan hidupnya. Pada dasarnya orang yang dipercaya ibarat orang yang diberi titipan, tergantung akan di apakan titipan tersebut. Orang yang di percaya sama juga orang yang diberi beban, dan beban tersebut harus dapat dipikul sampai pada tujuannya. Jika Kredibilitas ini dipertahankan maka terciptalah keluarga yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai dari cinta.

3.Ucapkan kata-kata yang dapat membesarkan hati pasangannya.

Hidup memang berat, kadang sebuah ucapan yang bernada memojokkan akan menimbulkan rasa pesimistis, yang mengakibatkan ia begitu merasa lemah di banding orang lain. Sehingga ia tidak percaya terhadap dirinya sendiri. Ucapkanlah kata-kata yang memberi semangat atau motivasi, seperti: “Andai saja kamu mau, aku percaya bahwa kamu pasti bisa, akupun begitu dan semua orangpun begitu.” Atau: “Aku tahu sebenarnya kamu mampu, tapi saat ini sedang tidak akan melakukannya.”

4.Ucapkan kata-kata yang bernada rayuan.

Memang ini kedengarannya basi, tapi ucapan yang sedikit merayu dapat menambah gairah dan merasa terhargai, kebanyakan pasutri sengaja melewatkan perkara ini karena mungkin merasa tak penting dan tak perlu lagi, padahal hati kecil orang yang dirayu oleh pasangannya merasa bahagia dan berbunga-bunga meskipun ia terlalu gengsi untuk memperlihatkan kepada pasangannya.

5.Jadikan pasanganmu itu seorang sahabat dan tempat berkeluh kesah [curhat].

Satu sisi ia pasanganmu, tapi di lain sisi ia orang lain yang tentu mempunyai pendapat berbeda denganmu, maka hargailah ia untuk di jadikan tempat menampung segala uneg-uneg dalam pikiranmu. Jadikan pula anak-anakmu itu sahabatmu, meski mereka orang termuda dalam keluargamu tapi mereka juga tak merasa keberatan jika di ajak bekerjasama. Jika kamu seorang ayah, mintalah bantuan kepada mereka agar tanggung jawab sebagai ayah menjadi ringan, dengan sering-sering komunikasi dari hati kehati, begitu pula jika kamu seorang ibu, isteri, atau suami.

6.Ucapkan kata: “Aku mencintaimu” setiap hari.

Kata-kata itu tak terbatas pada lesan saja, tapi pada perbuatan, sikap, dan tindakan lebih pada: Selangkah lebih maju dari pada ucapan lesan. Tunjukkan selalu bukti-bukti bahwa kamu mencintainya.

7.Ajak pasanganmu untuk membahas rencana-rencana kedepan.

Ini harus dilakukan tapi jangan terlalu sering, hanya sebatas untuk “mengikat” tali agar merasa bahwa pernikahan ini tidak untuk sesaat saja, namun masih banyak sekali hal-hal yang harus dikerjakan berdua.

8.Satukan 2 keluarga besar.

Untuk menyatukan 2 keluarga besar tersebut, dibutuhkan rasa saling membutuhkan kedua belah pihak, gunakan pasanganmu untuk membantumu menjadi “kabel” antara kamu dengan mertuamu, sebab tentu saja ia lebih dekat pada mereka dibandingkan kamu. Jika hal ini sudah dilakukan maka antara kamu dengan pasanganmu mempunyai penjaga-penjaga yang luar biasa kuatnya, dan tak mudah dipisahkan oleh pihak-pihak dari luar, karena “orang luar” kebanyakan merasa iri jika melihat keluarga yang harmonis.

9.Berilah, maka kamu akan menerima.

Budaya memberi lebih menguntungkan daripada menerima, sebab dengan memberi kita merasa cukup, lain halnya dengan budaya menerima, secara tak langsung ia masih merasa belum cukup atau miskin. Seperti pepatah: “Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah.” Ini berlaku bagi sebuah keluarga, dengan memberi maka berarti kita mencintai. Berilah pasanganmu tanpa mengharap imbalan, memberi tidak terbatas pada materi saja, tapi pada perhatian, kasih sayang, pengorbanan dll.

10.Ajaklah pasanganmu berkenalan dengan Tuhan.

Dalam hal ini membutuhkan pengetahuan yang cukup, apabila kita telah mengenal Tuhan tentu pula mengenal hukum-hukumnya. Ajaklah pasanganmu menemui orang-orang ‘Alim [berpengetahuan tentang kebenaran], mintalah bimbingan kepadanya demi masa depan, kita harus tahu letak keluarga kita, bagaimana seharusnya membina keluarga agar menjadi lebih baik, dan mau dikemanakan keluarga kita. Cinta berasal dari Tuhan, dan akan kembali lagi kepada-Nya, Dia menitipkan cinta agar dirawat dengan baik dan dipergunakan dengan baik pula, agar sama-sama menuju kehadirat-Nya membawa bekal yang cukup untuk hidup di hari kemudian [Akhirat].

ANDA BELUM PUNYA PACAR?

JURUS JITU MENAKLUKKAN HATI WANITA

1. Berkenalanlah dengan sopan.

Tidak ada wanita yang menyukai pria urakan, ia akan menganggap awal permulaan adalah sesuatu yang penting meskipun terkadang cinta datang karena seringnya bertemu, seperti pada pepatah Jawa: Witing tresno jalaran soko kulino, yang dimaksud dalam kalimat tersebut adalah cinta datang disebabkan seringnya bertemu, mulanya biasa-biasa saja tapi semakin lama jadi luar biasa, juga pada pepatah pujangga: Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.

2. Tutur kata yang santun dan rendah hati.

Wanita tidak menyukai pria yang terlalu cerewet, ia lebih menyukai pria yang pendiam tapi setiap berbicara mengandung kesan yang mendalam, juga wanita tidak menyukai pria yang selalu membangga-banggakan dirinya sendiri. Kebanyakan pria menggunakan trik ini untuk memikat hati wanita, tapi usaha tersebut kadang mengalami kesulitan dan buntu. Jika ini sampai terjadi maka wanita akan merasa bosan dan justru tidak terpikat, apalagi apa yang dibicarakan tidak sesuai dengan kenyataan, ini lebih parah lagi dan jangan harap bisa mendapatkannya.

3. Bantulah kesulitannya.

Wanita menyukai pria yang punya jiwa penolong, jangan pelit tenagamu, pikiranmu maupun waktumu untuk membantunya, utamakan dia lebih dulu daripada kamu sendiri. Tunjukkan bahwa kamu sangat peduli terhadapnya tapi jangan terlalu berlebihan.

4. Berpikirlah lebih dewasa daripada dia.

Dengan metode ini dia akan merasa terlindungi, juga akan membantumu untuk belajar lebih berpengalaman dari segala hal. Usahakan setiap dia bertanya kamu dapat menjawabnya dengan benar, memang tidak harus semuanya dapat dijawab, tapi setiap jawaban tidak mengharuskan sesuai dengan pertanyaannya, namun ciptakan trik lompatan-lampatan mengejutkan yang lebih berkesan agar perhatiannya tercurah pada jawabanmu yang tentu tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan, bagi wanita itu tidaklah menjadi masalah sebab dia telah merasa puas dengan apa yang kamu katakan tersebut, baru setelah dia lupa, cepat-cepatlah kamu mencari jawaban yang tertunda tadi dan katakan pada lain kesempatan.

5. Hiburlah dia dengan humor-humor yang menyegarkan.

Ini sangat menguntungkan bagimu, sebab selain dapat menyegarkan suasana juga memberimu lebih kreatif dan inovatif dalam mencari bahan-bahan lelucon. Dengan humor si dia akan selalu rindu kepadamu, mengharap sesering mungkin untuk bertemu dan mendengarkan guyonan-guyonan yang membuat pikirannya menjadi fresh.

6. Berusahalah menyisipkan ilmu-ilmu bermanfaat di setiap perkataan.

Kadang hal ini diremehkan karena mungkin kurangnya pengetahuanmu, kamu lebih suka asyik sendiri dalam berbicara tanpa mau tahu apakah dia masih mendengarkan atau tidak, padahal dengan begitu kamu makin buta terhadap apa saja yang kamu bicarakan tadi. Dengan menyisipkan ilmu-ilmu bermanfaat, kamu dengan tanpa disadari kadang merasa heran: “Aku kok bisa ngomong gitu ya?” Ini diluar batas pengetahuan kita sebab ini ilham yang bicara, menarik bukan? Saat kondisi mengharuskan untuk mendengar maka mendengar saja itu baik, tapi pada saat kondisi mengharuskan kamu untuk bicara maka bicara lebih baik, dan keutamaan ada pada bicara daripada mendengar, sebab ilmu yang datang dari dalam lebih murni dari pada yang datang dari luar tubuh kita.

7. Jadilah sosok yang unik namun inovatif.

Kebanyakan wanita menyukai pria yang agak nyleneh namun tidak keluar dari karakter sebagai pria normal. Unik yang dimaksud disini adalah lain dari yang lain, kaya ide, gagasan, cerdas dan berjiwa pemimpin, serta berani berspekulasi dengan kata-kata puitis.

8. Tampillah apa adanya dengan style kamu sendiri.

Hidup harus mempunyai gaya, gaya bisa berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisinya, gaya yang kaku akan menyulitkan kamu beradaptasi dengan lingkungan.

9. Belai hatinya.

Cara ini sangat ampuh untuk menaklukkan hati wanita manapun! Sebab wanita sangat menjunjung tinggi perasaan, gunakan rasa-mu untuk menyayanginya meskipun belum resmi jadian, dengan begitu maka hatinya akan luluh dan dapat dengan mudah kamu kuasai.

10. Tarik-ulurlah dalam hubungan.

Semakin dikejar semakin dia lari, saat dia lari maksimalkan segala rasamu, lalu berhentilah sampai dia berhenti berlari, saat itu larilah kamu seolah-olah tak butuh. Jika si dia benar-benar ada rasa atau bersimpati terhadapmu maka dia akan berganti mengejarmu, tunggulah pasti dia mengejarmu. Permainkan sebentar perasaannya, namun jangan terlalu berlebihan mentang-mentang kali ini kamu yang memegang kartu As-nya.
Lakukan trik ini terus tapi usahakan jangan sampai keluar dari pagar [tujuan semula], tahanlah emosimu, pada saatnya nanti pasti kalian akan sama-sama saling mengejar, dan jadilah kalian berdua sepasang kekasih yang saling mencintai.

Selamat berjuang, semoga apa yang saya sampaikan ini bermanfaat.

CERBUNG : DIARY PRAMESWARI

DIARY PRAMESWARI
Tepat pada tanggal 15 Mei 1982 lahirlah bayi perempuan yang mungil, dia diberi nama Musyafaah, anak ke empat dari lima bersaudara dari pasangan yang berbahagia. Bayi tersebut tumbuh menjadi gadis kecil yang manis dan lucu. Namun dibalik itu semua tidaklah ia merasa selalu bahagia sebab penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh, padahal memang sudah jadi hal yang wajar bahwa anak kecil itu kadang kurang bisa menjaga kesehatannya, maka seperti orang jawa bilang: Mungkin namanya tidak cocok dan harus diganti!

Lantas ia mengganti namanya sendiri menjadi Mustika Aji Prameswari, cantik sekali!
Nah! Prameswari kecil ini tumbuh menjadi gadis yang begitu lincah, ceria, terampil dan mudah bergaul. Singkat cerita, setiap lelaki rasanya ingin sekali untuk memilikinya, padahal Prameswari adalah gadis yang biasa-biasa saja, tidak begitu cantik, tapi orang-orang disekitar tempat tinggalnya mengakui bahwa dia gadis yang cerdas dan menyenangkan. Padahal dikampungnya banyak sekali gadis-gadis yang lebih cantik dibandingkan dengan dirinya. Bahkan hampir setiap malam di usia yang masih remaja belia tersebut banyak berdatangan pemuda-pemuda kampung sebelah rumahnya datang silih berganti hanya untuk mengobrol ngalor-ngidul. Apalagi kalau malam minggu, start mulai jam 7 sampai tengah malam Prameswari remaja masih selalu setia menemani ngobrol pemuda-pemuda yang datang dengan ”pasukan” nya masing-masing.
Terkadang Prameswari ini heran dengan dirinya sendiri, mengapa dia sampai banyak disukai oleh orang-orang, terutama kaum Adam. Mungkin karena dia tidak suka membeda-bedakan orang [low profile] dan mungkin juga dia suka dengan keramah-tamahan, dan yang sangat menonjol dari dirinya mungkin karena dia mudah sekali beradaptasi dengan lawan bicaranya. Itulah Prameswari.

Sang pangeran datang dengan pasukannya, lalu pergi, datang lagi pangeran yang lain, lalu pergi lagi, terus…sampai Prameswari bingung, apa yang harus ia jawab seandainya orang tuanya bertanya: ”Pilih saja satu, yang kau cintai!” Ach…cinta, itu sangat jauh dari pikirannya, sebab dia harus belajar dan terus belajar untuk meraih cita-citanya, meskipun pada dasarnya dia juga sering tak ada kesempatan untuk belajar! Untung saja dia diberi kecerdasan oleh Tuhan, sehingga mudah untuk membagi waktu.
Mungkinkah tujuan dari kedatangan para pemuda-pemuda tersebut untuk mendapatkan hatinya? Mungkin saja, tapi bagi Prameswari semua itu cuma sebatas berteman atau bersahabat semata. Itu dalam pikirannya, namun tidak bagi seorang pemuda berinisial R yang umurnya jauh diatas Prameswari yang datang secara resmi untuk meminangnya dimalam yang bahkan tak pernah terpikirkan olehnya tersebut.
Dengan tiba-tiba dan berterus terang ingin memperistri Prameswari, bagai disambar petir dimalam hari! Hati Prameswari sontak kaget, tak pernah terbayangkan olehnya bahwa ada seorang pemuda yang umurnya jauh diatasnya telah melamarnya, yang membuatnya syok dan bersikeras tidak mau menerima lamarannya dengan alasan masih ingin melanjutkan sekolah.

Prameswari menangis dipangkuan ibundanya, untuk meminta agar tidak menerima lamaran pemuda yang jauh dari harapan dan angan-angan tersebut. Prameswari berkata kepada sang ibu: ”Saya masih sangat muda dan belum cukup umur untuk melakukan semua ini bu…belum sepantasnya saya untuk menikah, apalagi umur saya begitu beda jauh dibandingkan dengannya, lagian dia bukanlah lelaki pilihan saya, saya masih ingin menuntut ilmu bu…” Akhirnya kedua orang tua Prameswari menyadari kondisi saat itu dan dapat memahami maksud anak gadis tercintanya. Ditolaklah lamaran pemuda tersebut dengan cara halus serta menjelaskannya secara baik-baik.
Keluarga si pemuda akhirnya pulang seolah-olah mau mengerti keadaan Prameswari, setelah kepulangan si pemuda tersebut bangkitlah kembali hatinya menjadi tenang seperti sedia kala.

Satu minggu berjalan, semula tidak terjadi apa-apa dengan ditolaknya lamaran tersebut, namun pada hari kedelapan apa yang terjadi? Si mantan pelamar tidak terima, dia merasa malu pada masyarakat sekitarnya karena banyak teman sejawat dan tetangga pada bilang kepadanya: ”Kamu lelaki yang tidak masuk kriteria Prameswari, kamu sungguh memalukan datang melamar tapi ditolak!” Kebanyakan teman-teman si pemuda menertawakannya, saking tidak kuatnya menerima hinaan dan ejekan teman-teman maupun orang-orang disekitarnya timbullah niat jahat untuk hanya sekedar dapat membuktikan bahwa ia sanggup menaklukkan hati Prameswari, dengan jalan apapun!
Niat jahat itupun berhasil, yang semula hati Prameswari sedikitpun tak ada simpati kepadanya akhirnya luluh, ia merasa iba dan tergila-gila kepadanya. Rupanya usaha si pemuda tersebut tidak sia-sia, selang satu minggu kemudian diterimalah lamaran yang kedua kalinya dengan tangan terbuka dan senang hati, kedua belah pihak keluarga sama-sama bahagia sebab Prameswari mau menerima calon suaminya tanpa perasaan berat meskipun umurnya jauh dibawahnya.

Tepat pada tanggal 18 Februari 1996 pesta pernikahan dilaksanakan, dengan alasan ibu si pemuda sudah tua dan takut apabila beliau tidak dapat melihat anak lelakinya menikah, itu semua juga atas permintaan si calon suami karena takut apabila Prameswari berubah pikiran, tapi anehnya setelah pernikahan dilangsungkan serta status Prameswari yang tentu telah menjadi seorang isteri, apa boleh dikata sekolah tinggal selangkah lagi ujian dan selesai, keanehan terjadi disini, apakah itu? Prameswari minta melanjutkan sekolahnya yang tinggal satu tahun lagi! Permintaanpun disetujui oleh sang suami, setelah satu minggu berlangsungnya pernikahan, berangkatlah kembali sang isteri baru tersebut ke sekolah dan melakukan aktifitas seperti biasa meskipun banyak dari teman-temannya yang sering menertawakannya, karena sungguh jarang terjadi seorang gadis berangkat sekolah lagi setelah menikah, dan itulah Prameswari, semua ocehan dia anggap tak penting, yang lebih penting adalah bagaimana dapat meneruskan sekolah dan mendapatkan ijazah SLTP, ia tidak merasa kesulitan sedikitpun dalam membagi waktu dari belajar sampai mengurus suami, semuanya dilakukan dengan gembira dan ringan-ringan saja.Bahkan untuk kebutuhan sekolah maupun sehari-harinya ia diberi jatah kusus dari hasil sebuah kapal, dengan kata lain ia diberi sebuah kapal untuk memenuhi kebutuhannya. Sehingga baik biaya sekolah maupun kebutuhan pribadinyapun tidaklah susah payah memikirkannya.

Pada akhirnya Prameswari berhasil memperjuangkan sekolahnya sampai tamat SLTP, dan lebih gilanya lagi di masa penghujung sekolahnya ia sedang hamil 4 bulan! Tapi teman-temannya tidak tahu mengenai kehamilannya tersebut, karena mungkin kepandaian Prameswari dalam hal menyembunyikan perubahan perutnya yang mulai membuncit.
Mereka berdua hidup bahagia, dikaruniai seorang anak yang lahir pada tanggal 18 Maret 1997,laki-laki, ganteng seperti ayahnya. Tapi yang namanya berumah-tangga tentu banyak sekali masalah, dari yang namanya beda pendapat, kurangnya perhatian dan kasihsayang, sampai masalah sepelepun jadi suatu permasalahan yang amat besar dan krusial. Bermacam gejolak dalam keluarga masih dapat dipertahankan, tapi untuk urusan harga diri itu perkara individual dan ego, untuk urusan ini keluarga tidaklah penting, kebersamaan yang telah dilalui bertahun-tahunpun hilang musnah, keharmonisan yang dulu di rasakan berduapun ikut pula lari dari ingatan, dan perpisahanpun dijadikan jalan terbaik, sehingga semua perjuangan cinta menjadi sia-sia saja yang hanya meninggalkan puing-puing kenangan tanpa arti, tanpa sedikitpun bersedia memetik hikmah dari kejadian-kejadian yang dialami, hanya demi sebuah mempertahankan harga diri dan emosi, bah! Mana kata-kata cinta manis melebihi tebu yang dulu pernah dilontarkan? Dan janji-janji indah yang dulu pernah diikrarkan? Semua hilang tak berbekas, hanya meninggalkan isak tangis pilu dimalam hari, bersama sang bayi mungil tanpa dosa digendongan ibunda tercinta, yang hatinya rapuh ditinggalkan sang suami.
Prameswari menangis sesegukan, berdialog dengan sepi, berbicara dengan kebisuan hati. Merana diantara dua pilihan yang berat! Ibunda tercinta atau suami terkasih.
Hatinya limbung diterjang ombak problematika keluarga, ingin rasanya ia lari namun kakinya terbelenggu oleh tanggungjawab sebagai seorang ibu, tapi demi masa depan rumah-tangga dan anaknya, tak ada pilihan lain lagi kecuali mengikuti kehendak sang suami meskipun berat rasanya jauh dari orang tua. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Kedaulatan rumah tangga memang terancam, dan apa yang dulu hanya berada dalam anganpun kini muncul dalam kenyataan, yaitu pisahlah jalan terbaik!
Padahal Prameswari telah dikaruniai dua orang anak, yang tidak tahu apa yang akan terjadi diantara kedua orang tuanya, padahal orang tuanya berencana dan “memaksa” mereka berdua untuk mempunyai ayah tiri atau ibu tiri, tergantung kepada siapa mereka menyerahkan masa depan jiwa-raganya, kepada siapa mereka mempercayakan hidupnya, atau tergantung siapa yang bakal memenangkan hak asuhnya, ibu atau sang ayahlah yang beruntung, mereka pasrah, bagai ikan hias didalam stoples.

Prameswari berjalan terseok-seok dipematang hidupnya, terbang kesana kemari bagai burung camar pengarung lautan, kerikil-kerikil tajam ia tendang, bekas bungkus snack ia libas berhamburan, melenggang bebas bagai lembu yang lepas dari ikatan, menjadi ratu tanpa pengawal, sendiri…berpegang pada tali takdir yang kadang sulit dipercaya, mencari kebenaran, hingga ia bertemu pada keadaan yang mulai stabil dalam hidupnya.
Memberikan kesempatan hati untuk kembali terbuka, setelah sekian lama tak berpenghuni, adalah dia, seorang pria gagah, bertanggung jawab, dan yang lebih penting lagi ia adalah seorang pria yang mampu menepis persangkaan Prameswari bahwa semua pria itu brengsek! Sebab kali ini tidak, pria tersebut mampu membuat hati Prameswari menjadi berharap banyak terhadapnya, singkat cerita merekapun jatuh cinta, menikah, dan membangun mahligai rumah-tangga kembali dengan tanpa mempedulikan apa status Prameswari, mereka bahagia, damai dan menemukan gairah dalam menjalani kehidupan berumah-tangga.

Luka yang dulu berbekas kini mulai dibersihkan, semakin berpengalaman merajut benang membuat Kristick masa depan, menganggap bahwa kejadian yang lalu tidak pernah ada dengan kehadiran kehidupan baru, Prameswari yakin bahwa inilah kebenaran yang bukan kebetulan, semua sangat terprogram dan terencana dengan cermat, teliti dan akurat.
Tapi manusia itu sarat dengan kelupaan, seperti halnya kita, disaat kita bahagia seakan-akan tidak akan mengalami kesedihan, saat kita sakit seakan-akan tidak mungkin sembuh dan sehat, saat kita kaya seakan-akan tidak akan miskin.
Dan begitulah yang tengah dialami Prameswari saat ini, ia begitu ikhlas kepada suaminya, membantu mengais rizki dengan bermodalkan pengalaman yang ia punyai, percaya sepenuh jiwa dan raganya, seakan-akan tidak akan lagi terjadi kejadian-kejadian seperti dulu, maka “Beruntunglah mereka” begitu kira-kira kata hati orang-orang disekitar mereka, sebab mereka mengakui adanya kesinambungan dan kecocokan diantara mereka berdua yang terpancar dari sorot mata mereka.

Kita tinggalkan sementara mereka yang berbahagia, sejenak mari kita melihat denga mata hati,jangan melalui mata dzahir saja, sebenarnya dibalik kebahagiaan mereka menyimpan bangkai busuk yang suatu saat pasti akan tercium baunya, ibarat kata pepatah: Bagai telur diujung tanduk, suatu saat telur tersebut pasti akan tergelincir jatuh, manakala keseimbangan tidak lagi berpihak kepadanya dan daya gravitasi bumi memaksanya menarik fakta jatuh kepada kebohongan yang memalukan! Tapi kita tahu bahwa semua sesuai rencana meski rencana tersebut masih rahasia dan berada didalam genggaman Dzat Yang Tersembunyi. Kita bisa beracuan pada dalil tentang keseimbangan: Mudharat sebanding dengan Maslahat, iman sebanding dengan kafir, dan seterusnya.
Bahwa disana, jauh dari pandangan mata mereka, hidup sebuah keluarga dua anak, ibu, dan sang ayah yang sedang pergi merantau di negeri seberang. Mereka senantiasa menanti kiriman kabar, tapi yang sangat ditunggu-tunggu yaitu mereka menanti kiriman uang untuk makan dan berkehidupan. Mereka bangga dengan ayah atau suaminya yang rela meninggalkan keluarga untuk mencari nafkah dan membuka pintu rizki demi mereka, mereka tak tahu bahwa orang yang amat dinantikan tersebut tengah berbahagia bersama wanita yang dicintainya, yaitu Prameswari.
Jadi, tanpa disadari Prameswari telah merenggut kebahagiaan keluarga kecil tersebut, meskipun sesungguhnya ia tak tahu-menahu bahwa suaminya adalah suami orang lain. Tak pernah sedikitpun terlintas dalam benaknya bahwa ia akan menikah dengan lelaki berstatus suami.

Waktu berjalan seperti biasa dalam masa kurang dari satu tahun usia pernikahan, belum menunjukkan ada kecurigaan dalam diri Prameswari, namun apalah daya si bangkai semakin lama semakin busuk dan berbau, entah siapa yang memulai ataukah secara kebetulan saja, waktu yang semula berpihak pada mereka kini undur diri dengan pengungkapan kebenarannya.
Kecurigaanpun muncul dengan tiba-tiba gara-gara ketidak stabilan sebuah perhatian, semakin lama semakin kuat mendera, dan akhirnya waktu yang dijanjikanpun datang, semula sang suami tidak mau mengakui tuduhan Prameswari, sebab dia sangat mencintainya, Prameswari hanya bertanya: ”Dimana sebagian uang gajimu?” Padahal Prameswari hanya sekedar bertanya saja sebab gajinya sendiripun jauh lebih banyak dari sang suami, dan tidaklah begitu penting pemberian suaminya.
Mulailah datang sebuah malapetaka, saling tuding-menuding, menyalahkan satu sama lain, yang lebih tidak masuk akal lagi jelas-lelas terbukti bersalah masih saja merasa tidak bersalah.

Setelah adanya kejadian tersebut kepercayaan yang semula penuh kini lambat laun mulai berkurang, jiwa intelegent Prameswari mulai bekerja ekstra, apapun yang dilakukan sang suami mulai dari mengikat tali sepatu sampai sarapan pagi tak luput dari pantauannya.
Bahkan abjad-abjad yang dipilih sang suami dalam mengetik pesan singkat dalam ponsel-pun begitu mudah dan cepat dapat diketahuinya, sampai pada suatu ketika ada berita: ”Anakmu sakit mas, kapan bisa pulang?”
Jantung Prameswari yang semula berdetak pelan mendadak tak beraturan akibat membaca tulisan dalam kotak masuk ponsel suaminya yang kebetulan tertinggal dirumah. Dia bertanya dalam hati: Mungkinkah ini salah kirim? Sebaiknya aku tanyakan pada si pengirim!
Sejurus kemudian lemas sudah tubuhnya mendengar suara wanita jauh di seberang mengaku sebagai istri dari suaminya, seakan-akan tulang-tulang didalam tubuhnya hilang entah kemana, persendian terasa nyeri dan lunglai ibarat layang-layang diguyur hujan lebat. Yang ada dalam benaknya hanya anak-anaknya! Apa yang harus dikatakan kepada meraka bahwa ayah baru mereka sebenarnya ayah orang lain, dan kepada orang tua, saudara, juga kepada orang-orang, jawaban apa yang akan dilontarkan jika mereka bertanya: ”Dimana suamimu yang baru itu?” Maka Prameswari pasti akan menjawab dengan berat hati: ”Suamiku pergi menemui isterinya”.

Bosan, dan terasa sangat membosankan hidup penuh dengan masalah, tapi dibalik kebosanan tersebut justru ia semakin matang dalam menentukan sikap, mantap terhadap apapun yang akan dilakukannya. Kini Prameswari tidak lagi mudah percaya dengan kata-kata manis dari mulut laki-laki, ia begitu muak dengan segala kebohongan, bertahun-tahun kembali ia hidup menjanda, sendiri dalam sunyi, menjadi “single-parent” bagi anak-anaknya, segala kebutuhan hidup ia tanggung sendiri, melupakan keindahan-keindahan selama hidup bersuami.
Dalam kesendirian inilah mulai ia belajar tentang rasa, begitu pentingnya sebuah rasa menjadikan ia semakin halus, terprogram, dan tertata kembali sebagaimana manusia yang sadar dari kealpaan, ia kini menjadi santun, rendah hati dan dermawan. Menganggap bahwa kehidupan tanpa ada masalah pasti terasa hambar. Saat hatinya mulai stabil, maka pikiranpun mulai terbuka untuk kembali menatap masa depan yang lebih cerah.

Suatu malam Prameswari bermimpi didatangi seorang pria berpakaian compang-camping layaknya pengemis, ia merasa iba melihatnya, lantas diberinya pengemis tersebut gelang emas miliknya, namun pengemis tersebut justru menolaknya sambil mengeluarkan gelang emas serupa yang jumlahnya lebih banyak dari Prameswari, ia bingung dan malu, apa yang harus ia lakukan? Pengemis itu berkata: ”Andai kata aku mau mempergunakan ini tentu aku tak jadi pengemis, ini hanyalah tipuan saja”. Lalu ia membuang semua perhiasan tersebut kedalam aliran sungai yang deras. Prameswari bertanya: ”Mengapa tidak engkau berikan saja kepada keluargamu dirumah, mengapa justru membuangnya?” si pengemis menjawab: ”Kamu belum tahu masalah ini”.
Setelah kejadian mimpi tersebut Prameswari sadar bahwa kemewahan dunia adalah semu belaka jika tak dimanfaatkan dengan baik, semakin ia ingat mimpi itu semakin ia penasaran, siapa sebenarnya pengemis tersebut.

Masih dalam suasana hati yang sepi Prameswari menjalani hidup tanpa kehadiran seorang suami, meskipun berdatangan pria-pria yang beraneka ragam karakter namun tak satupun sanggup menaklukkan hatinya, bahkan ada yang mati-matian dengan berbagai cara agar hati Prameswari takluk namun ia masih tegar dengan pendiriannya. Begitu pula sang mantan suami tak ketinggalan ambil bagian dalam turnamen tersebut, apalagi dia yang sudah jelas pernah merasakan belaian kasih-sayang Prameswari, namun kembali Prameswari tak bergeming! Lantas siapakah lelaki idaman hidupnya? Pertanyaan seperti ini pula sering terdengar dari keluarga maupun teman-temannya.

Malam itu semakin dingin yang membuat Prameswari tak kuat menahan rasa kantuk, dikamar sempit inilah kembali ia bermimpi bertemu dengan pengemis yang dulu, semakin lama berbincang-bincang ia semakin tahu bahwa perkataan si pengemis membuatnya damai, tenteram dan merasa terlindungi. Bahkan setiap menjelang tidur ia berharap sekali bertemu dengan pengemis miskin papa itu tanpa merasa berat hati, pernah terlintas dalam hati: Inilah kiranya lelaki yang aku idam-idamkan, meskipun miskin, kemiskinannya sebatas miskin di badan tapi kaya raya di hati.
Mungkin Prameswari merasa kasihan kepadanya, mungkin juga ia merasa jatuh hati, kita tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya, yang kita tahu hanya kini Prameswari bahagia bersama mimpi-mimpinya. Semoga mimpi-mimpinya dapatlah menjadi kenyataan. [BERSAMBUNG]

TRUE LOVE OF BIMA

Sepi, bisu…

Rembulan yang cantik merayap pelan, bergelayut tangkai langit, menampakkan kecantikannya pada pemuda yang menunggunya dari lima jam yang lalu di teras rumah bambunya. Pemuda kampung itu sangatlah miskin, rumahnya dari bambu, beratapkan ijuk ukuran empat kali enam persegi, tanpa teman dan keramaian, menyendiri ber-uzlah ditepian kehidupan yang bising. Sorot matanya sangat tajam menatap sang rembulan oleh sebab teringat mimpi-mimpi yang setiap malam ia alami. Tak terasa matanya pedih, dan semakin pedih…meneteslah air matanya untuk yang pertama kali dimalam ini. Semakin pilu ia menangis hingga tak terasa bunyi lonceng di kejauhan berhenti pada hitungan yang ke tiga kali.

Bermandikan cahaya rembulan adalah salah satu kegemarannya, yang menyebabkan ia tetap terpaku duduk sendiri, sembari malu-malu ia mengungkapkan isi hatinya yang semakin terlena. Oh…betapa ia sedang jatuh cinta kini.Sesekali air matanya ia seka, menggelengkan kepalanya berat, mengartikan bahwa ketidak mungkinan ia hidup bersama kekasihnya sebab jarak yang terlalu jauh, padahal…mereka telah sama-sama jatuh cinta.

Sepi, bisu, dan hening…

Hanya terdengar isak tangis yang semakin lama semakin pudar, hingga tak terdengar lagi, tanpa disadari ia pun terlelap.

Jiwanya terbang terseret angan, membiarkan jasadnya basah oleh embun malam, menggigil…bungkam tiada kata lagi.

”Anak muda,” sesosok mahluk berjubah putih tiba-tiba muncul dihadapan.

”Sudah siapkah engkau sekarang menghadap Baginda Raja?” tanyanya kemudian.

”Ach kau lagi,” jawab si pemuda.

”Aku sudah siap dari kemarin, lakukanlah segera!”

”Tetapi,mengapa kau menangis?” Tanya mahluk itu lagi.

”Aku menangis karena hidupku, dan aku menangis karena matiku.” jawab pemuda itu sambil mmenundukkan kepalanya, mereka berhadap-hadapan, hanya berjarak satu jengkal saja.

”Apa maksudmu?” pertanyaan itu sempat membuatnya berfikir dalam.

”Untuk hidupku, aku menangis karena tak akan pernah lagi menemani rembulanku, dia sendiri, setiap malam kami bercerita tentang diri masing-masing, yach…kelembutan sikapnya mampu membuatku menangis, menangisi hidupku yang tak mampu menemani selama-lamanya, karena aku harus pergi, dan pastilah aku pergi untuk selamanya.” Kenangnya tanpa mempedulikan pada siapa ia berhadapan.

”Ya, begitulah anak muda, lantas mengapa kau menangis karena matimu?”

”Untuk matiku, aku menangis karena aku harus bertemu dengan Baginda Suci, sedangkan aku masih kotor, aku belum pantas bertemu dengan-Nya, andai saja ada air yang mampu membersihkan kotoranku…”

Kata-katanya terhenti, terbawa air mata yang jatuh ke bumi, mempengaruhi jasadnya hingga…

Isak tangis malam itu terdengar lagi, terlihat jasad pemuda itu semakin dalam, hanyut bersama mimpinya, kepalanya tertunduk, air matanya menetes membasahi sarung kumalnya.

”Benarkah apa yang kau ucapkan itu anak muda?” kembali ia dihujani pertanyaan untuk yang kesekian kalinya. ”Ya,aku telah siap meninggalkan segalanya, bahkan jiwa ragaku aku pertaruhkan untuk kelangsungan hidup yang hakiki, yang selalu aku impikan. Bukan ku menyesal telah dilahirkan kedunia, tapi ku menyesal jika aku mati tanpa membawa bekal yang cukup, sebagai manusia, sebagai mahluk yang diciptakan Tuhan, sebagai manusia seutuhnya.

”Benarkah apa yang kau ucapkan itu anak muda?” kembali ia dihujani pertanyaan untuk yang kesekian kalinya. ”Ya, aku telah siap meninggalkan segalanya, bahkan jiwa ragaku aku pertaruhkan demi kelangsungan hidup yang hakiki, yang selalu aku impikan. Bukan kumenyesal telah dilahirkan kedunia, tapi kumenyesal jika aku mati tanpa membawa bekal yang cukup, sebagai manusia, sebagai mahluk yang diciptakan Tuhan, sebagai manusia seutuhnya.”

”Jika memang demikian niatmu, maka masuklah kedalam sungai itu!” perintah sosok berjubah sambil mengacungkan jarinya kearah samudera. Seketika ia berniat terjun kedasar samudera, namun belum sempat ia menyentuh air, dihadapan telah berdiri dua raksasa tinggi besar siap menyambut kedatangannya dengan taring dan senjata masing-masing.

Malam berjalan pelan, rembulan mulai merambat naik dengan bercucuran air mata melihat jiwa yang sama sekali belum pernah merasakan buah surga maya dunia itu pergi meninggalkannya, tangisan menggema memecah dinding langit, yang penduduknya saling menggenggam tangan dan berdoa mengiringi kepergiannya, mereka berkata: ”Jangan Bima, kau tidak kuat, sudah banyak yang mencobanya tapi tiada satupun yang berhasil pulang dengan selamat, semoga kau berhasil saudaraku…”

Bima, begitu mereka memanggilnya, tanpa mempedulikan teriakan orang-orang yang melarangnya, ia bagai seorang yang telah mempunyai tujuan pasti, tujuan yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.

Derit pohon bambu yang saling bergesekan tak mampu mengembalikan kesadaran anak muda yang sedari tadi tertunduk semakin dalam, begitu pula kemolekan sang rembulan yang menggairahkan, dan gigitan nyamuk yang semakin ganas menghisap darah anak muda itu tak mampu membangunkan tidurnya.

Tiada lagi tetesan air mata, tiada lagi isakan tangis, yang ada hanya rasa semangat yang bergelora menghadapi pertempuran dengan dua raksasa dipermukaan samudera untuk dibunuhnya satu persatu.Ia harus berhasil, dan kembali menemui rembulan-nya yang kini semakin condong ke barat membawa harapan besar terhadapnya.”Doakan aku wahai rembulanku, agar kita dapat bertemu lagi,” bisiknya dalam hati disela-sela pertarungan melawan dua raksasa penjaga samudera.Satu persatu mati, dan…”Selesai sudah,” pikirnya.Namun tiba-tiba datang ular besar berwarna hijau tua menyerang dari arah belakang, menggigit paha kirinya.

Berkelit, menghantam,mencekik…Berbagai cara Bima lakukan, namun tidaklah mudah mengalahkan ular tersebut, tapi ia harus dapat mengalahkannya.

Yach, darah segar keluar dari berbagai penjuru akibat tusukan kuku pancanaka yang dihujamkan Bima kearah tubuh ular tersebut. Menggelepar, meraung, dan pada akhirnya ular itupun mati. Ternyata ular hanyalah penjelmaan nafsunya saja, maka saat ular itu mati, Bima-pun ikut pula mati.

Akibatnya Bima linglung, bingung tak tahu arah dan tujuan, semakin lama berfikir semakin ia tak mengerti bahwa sebenarnya ia telah berada di lingkungan baru, alam yang teramat asing baginya, alam yang ia merasa sendiri tanpa teman, saudara dan kerabat.

Sayup-sayup terdengar suara memanggil-manggil, ”Bima…Bima…Bima…” suar itu semakin jelas mendekat dan tampaklah sosok bertubuh kecil menyerupai bentuknya, yang membuat ia semakin penasaran. ”Siapa kamu?” Tanya Bima setelah ia berhadapan dengan sosok yang mirip dengannya tersebut. ”Aku adalah kamu, maka masuklah kedalam tubuhku.”

”Bagaimana aku bisa masuk sedangkan tubuhmu lebih kecil dariku?”

”Masuklah melalui telinga kiriku, ingatlah bahwa kau telah mati, hidup dan mati tak ada bedanya, jasadmu halus berupa suksma.”

Maka dengan bersemedi sebentar, secepat kilat Bima dapat masuk kedalam tubuh tersebut. Didalam ia semakin bingung, linglung tak tahu kiblat, namun segera dapat diatasinya. Dilingkungan yang baru lagi inilah Bima dapat melihat alam yang indah permai bagai surga, mulia dan wangi baunya.Ia bersimpuh pasrah mendengarkan wejangan-wejangan tentang berbagai hal mengenai kesempurnaan hidup, ia diberitahu tentang rahasia-rahasia hidup, dan berbagai ilmu pengetahuan yang sama sekali belum pernah ia ketahui sebelumnya.Ia merasa nyaman, tenteram, dan damai bersama Kekasihnya Yang Suci, yang mencintai dan menyayangi, berjalan-jalan di taman dengan aneka buah-buahan yang ranum, pohon-pohon yang rindang dan subur yang dibawahnya mengalir sungai yang bening dan menyegarkan, menemukan jawaban sebelum ia bertanya, menjawab semua teka-teki yang dulu pernah di pertanyakan, bersatu…manunggal dengan kedamaian abadi, ia telah menemukan siapa dirinya, dan kemana tujuan akhir hidupnya, sehingga ia berniat tidak ingin kembali kedunia, ia merasa puas dan ingin menetap disana. Begitulah manusia, jika telah merasa nyaman maka ia akan lupa dengan tanggung jawabnya. Bima lupa kepada hidupnya, kepada rembulan yang menunggunya, kepada pekerjaannya, kepada hari-harinya yang masih panjang dengan tugas-tugas yang tentu akan lebih berat lagi, tiada mungkin ia di ijinkan untuk tetap tinggal.

”Bima…” tiba-tiba ada suara yang membuatnya terkejut. ”Kini, semuanya telah kau dapatkan, apa-apa yang kau pinta telah ku penuhi karena empat langkah perjalanan telah kau lalui dengan sempurna, maka kembalilah kedalam jasadmu, laksanakan dan amalkan apa-apa yang telah kau ketahui, belum saatnya kau disini meskipun kau berharap sekali tetap disini, karena tugas berat telah menantimu disana, dan temuilah rembulanmu sebelum ia pergi meninggalkanmu.

Suara itu lalu menghilang, berganti suara-suara binatang malam dan derit pohon bambu. Berangsur-angsur semakin jelas terdengar, hawa dingin terasa mengusik kulitnya yang mulai berembun. Anak muda itu telah terjaga dari tidurnya. Menggeliat…tubuhnya terasa pegal-pegal seperti baru saja menempuh perjalanan jauh. Wajahnya terlihat tampak lebih cerah dari sebelumnya, secerah rembulan yang masih setia menunggunya diatas atap rumah bambunya. Ia lantas beranjak dan masuk kedalam rumah untuk bersegera menunaikan sholat subuh seperti malam-malam sebelumnya.

Sukorejo,13 juli 2009

ANGSA PUTIH

Kulihat Angsa putih itu mengepak-ngepakkan sayapnya, sambil menari, menggoyang kan ekornya kekanan dan kekiri dalam balutan kabut tipis. Aku berjalan pelan sambil sesekali mencuri pandang, karena takut ketahuan indera tatapnya meski ia tahu aku menikmatinya. Itulah Angsa putih ku, meskipun aku goda beberapa kali ia tetap menghargaiku, kadang sesekali marah apabila secara iseng kusentuh ekornya, itu wajar saja karena aku tahu marah baginya hanyalah sebagai formalitas belaka,Aku mendekat ke arahnya, kutatap dari ujung kepala sampai ujung kaki, dalam hatiku berkata ; “Aku melihat Tyessa ada didalam tubuhnya”, dan jiwaku mengagumi dibawah payung pesonanya, aku memujanya seperti aku pernah memuja seseorang 12 tahun yang lalu. Mungkin sekarang dia hadir kembali bersama jiwaku yang telah lama terkubur bersama jasad seseorang yang kucintai, jiwa yang senyap akibat trauma keabadian. Aku lunglai saat itu, saat-saat dimana ruhnya dibawa terbang oleh sayap-sayap kematian, dan tidur tanpa keterjagaan.
Hatiku pilu, jiwaku berontak seakan-akan ingin sekali menyayat kulit tubuhku dengan pisau amarah supaya aku dapat segera menyusulnya, tapi aku ingat kalimat terakhir sebelum ia tersenyum dalam kesedihan yang kekal.

“Kamu jangan sedih, karena aku pasti akan kembali…”
Aku memegang erat kedua lengannya sambil sesekali menyeka darah yang mengucur deras dari ubun-ubunnya. sederas air mataku, sederas lalu-lalang laju kendaraan perkotaan. Kurasakan sekali pada pahaku sepertinya ada benda keras menusuk celana jinsku, kuangkat jasad kekasihku yang masih hangat, dan ternyata tulang belakangnya remuk gara-gara injakan kaki-kaki karet sang raja jalanan, beruntung sekali aku mendapati nafas terakhirnya, seketika itu pula dunia seakan-akan gelap gulita, berputar-putar layaknya labirin, aku lemas dan akhirnya…entahlah.
Sayup-sayup kudengar suara orang-orang memanggil namaku, kucoba membuka mataku pelan-pelan,samar,dan sepertinya aku mengenal orang-orang itu.
“Ayah,Ibu,Om…dimana aku?” tanyaku gemetar.
“Syukurlah nak, kamu sudah siuman…” jawab Ibuku sambil kulihat orang-orang dengan serentak mengelus dada dan mengucap syukur.
“Apa yang terjadi padaku Bu?” tanyaku kemudian.
” Kamu dua hari koma nak, kami sangat mengkhawatirkanmu.dan sekarang kami bahagia kamu sudah sadarkan diri.” Kulihat ibuku menangis sambil memeluk tubuhku yang lemah.
Aku benar-benar tak tahu apa yang terjadi padaku, yang aku tahu hanyalah bau obat-obatan, cat dinding warna putih,orang-orang lalu-lalang yang berpakaian serba putih, dan kerumunan orang-orang yang kukenal, yaitu keluargaku.
Sepertinya mereka sangat mengkhawatirkanku. Kucoba untuk mengangkat tubuhku.tapi berat sekali rasanya, tanganku lemas tak berdaya, dan tubuhku letih seperti baru saja menempuh perjalanan jauh.”Kamu harus istirahat dulu Yudha.dan jangan bergerak terlalu berat.soalnyakondisi kesehatanmu belum pulih betui anakku…” suara Ibu mengurungkan niatku untuk bangkit. Sepertinya aku baru saja lahir ke dunia untuk yang kedua kalinya.tubuhku lemah tak berdaya laksana bayi, yang aku ingat hanyalah Ibu,ayah,dan orang-orang terdekat, aku merasakan bahwa telah kehilangan satu orang yang sangat aku sayangi.tapi aku tak tahu.otakku tak bias memutar balik kehidupanku yang dulu.semuanya hilang,dan musnah ditelan tekanan dan trauma, yang aku tahu sekarang hanya sisa bercak darah yang menempel dikuku ibu jari dan telunjuk tanganku, dalam hatiku bertanya: Darah apa ini, mengapa ada padaku? namun aku tak menemukan jawaban, sampai akhirnya aku tertidur pulas setelah meminum obat penenang yang di anjurkan Dokter.
Aku berjalan menyusuri lembah-lembah, perbukitan, hutan, sungai,dan apapun yang aku mau. Kadang-kadang aku terbang tinggi bersama elang,menembus awan pekat sambil sesekali pandanganku menangkap Angsa-angsa putih yang berenang disungai Kehidupan.Jiwaku melayang tak tentu arah,anganku terbang bersama emosiku.Aku terjatuh.tersungkur dalam khayal.Mengutuki nasibku, menyesali sikap-sikapku yang buruk. Kulihat darahku mengalir keluar dari pori-pori kulitku. Aku lemas tak punya tenaga. Sejurus kemudian aku pingsan. Tak tahu apakah jiwaku masih berada didalam tubuhku ataukah telah pergi bersama elang,
Kurasakan belaian lembut tangan suci, kupandangi sekeliling tapi tak kudapati siapapun, hanyalah sosok Angsa putih yang menangis disampingku, seraut wajah sayu dan membisu, keteduhan yang telah gersang, keranuman yang telah hambardan bergetar, dingin, menyusup pori-pori kehidupan.
“Mengapa kamu menangis wahai Angsa putih?” tanyaku padanya.
Tapi sepatah katapun tak keluar dari paruhnya, hanya hening dan ham yang kudengar, hanya angin dan gemuruh yang kulihat. Bahkan air matanya semakin deras membasahi pipinya yang putih bersih. Samar-samar kulihat wajahnya begitu akrab denganku, ya, akrab sekali dihatiku. Tak kuasa menahan rasa ke ingin tahuan, Kutanya ia untuk yang ke duakali.
“Apakah aku mengenalmu,dan apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyaku kemudian. Angsa putih itu hanya menundukkan kepalanya dan tak berkata apapun. Semakin menundukkan kepala semakin jelas pula kulihat luka menganga di ubun-ubunnya. Dalam hatiku berkata: Sepertinya aku pernah melihat luka seperti itu, tapi…
Lamunanku buyar tatkala ia menghentikan belaianya, berdiri, dan membalikkan tubuhnya, sebelum akhirnya ia terbang keangkasa raya aku sempat melihat tulang punggungnya yang remuk dan menjulur ke!uar,spontan mulutku gemetar berusaha menemukan sebuah kata di hati. Sebuah nama yang akrab,dekat,dan melekat dihati sanubari,didalam jiwaku yang biru, terukir didalam perasaanku yang paling dalam.
“Tyessa, Tyessa…,” aku memanggil nama itu, berulangkali aku memanggilnya tapi ia telah jauh pergi meninggalkanku dalam kesendirian. Aku sedih dalam penyesalan dan rasa bersalah. Dengan sekuat tenaga aku berusaha bangkit, berjalan tertatih-tatih menapaki pamatang-pematang kehidupan.
Menelusuri lembah-lembah usia yang renta, mendekati kelahiranku kembali kealam Barzah. Aku terus memanggil nama itu sampai kurasakan tubuhku bergoyang-goyang, kurasakan cengkeraman kuat di bahuku dan teryata dua tangan Ayahku mencoba berusaha membangunkan tidurku. Aku sadar.tapi mulutku masih mengucap nama yang sepertinya tak asing bagi orang-orang yang mengerumuniku.Rasa ingin tahuku memuncak saat mereka saling berpelukan satu sama lain setelah aku berhenti memanggil-manggil nama Tyessa.
“Siapakah Tyessa itu Ibu? ” Aku bertanya pada Ibuku yang kebetuian paling dekat denganku. Aku semakin heran dengan begitu eratnya Ibuku memelukku.tak satupun yang berani menjawab pertanyaanku, begitu pula Ibu, Ayah, dan Dokter yang menangani jenazah Tyessa. Semuanya diam, hanya isak tangis yang kudengar dan derit kursi roda pasien Rumah Sakit yang datang mendekat dan bertanya:
“Sudah sadarkah anak Ibu?” tanya pasien itu.
Ibuku hanya menoleh dan berusaha tersenyum meski kulihat sangat dipaksakan. Aku semakin tak mengerti apa yang terjadi padaku. Siapakah Tyessa itu?ada apa dengan mimpiku? berbagai pertanyaan berkecamuk saling berebutan meminta jawaban.
Berulang kali Tyessa hadir dalam mimpi-mimpiku. Dalam hari-hariku,kurasakan sekali keakraban dan kelembutan pada tatapan matanya.ada panorama yang indah dalam bola matanya, yang memberikan kebahagiaan abadi di setiap ceruk dan relung hatiku yang paling dalam. Aku yakin dia adalah kekasih jiwaku,perempuan pujaan pada kehidupanku yang dulu,perempuan yang telah member’] semangat hidupku kembali.
Berbagai siasat kulakukan untuk mengetahui siapa itu Tyessa,karena Dokter bilang bahwa aku mengalami shok dan gangguan syaraf ringan, berkat bantuan orang-orang terdekatku lambat laun daya ingatkupun mulai berfungsi,seperti kata kakekku: Setiap penyakit itu hanya bisa disembuhkan atas keyakinan diri, doa, dan bantuan orang-orang terdekat. Apalagi penyakitku adalah menyangkut mental dan syaraf.
Aku berhasil menemukan bukti-bukti kuat keberadaan Tyessa, seperti:Surat cintanya.T-s/rt pemberiannya pada ulang tahunku, buku D/a/yku, dan berbagai pernak-pernik cindera mata darinya. Itu semua kulakukan guna memulihkan memori-memori yang pernah kualami. Akhirnya aku menemukan jiwaku kembali.Aku adalah kekasihnya,dan dia adalah kekasihku abadi.
Tyessa belum mati.dia akan tetap hidup bersama cintaku.Aku yakin bahwa dia akan kembali, menemui jiwaku yang sendiri dengan kerinduan,bersama kabut malam.sepoi angin pagi.di setiap helaan nafas dan seiring detak jantungku.dan aku tahu dimana dia sekarang,yaitu di hatiku. Pusara hanyalah tempat singgah sementara sebelum ruh-ruh di bangkitkan kembali pada Penghisaban. Dan kami akan bangkit kembali bergandengan tangan menunggu panggilan hidup yang kekal.
Hari-hari kulalui dengan aktifitasku,kucoba menyibukkan diri apapun yang kulakukan sekedar untuk melupakannya,karena mengingatnya hanyalah membuatku sedih saja.
Meski kutahu hatiku masih mencintainya dan sulit sekali melupakannya,tapi kusimpan dalam-dalam perasaan itu di dasar samudera jiwaku. Kubenamkan rasa itu.kuistirahatkan khayalan itu sampai sekarang,12 tahun sudah rasa itu mengisi hatiku.
Seperti yang pernah dia katakan pada saat-saat terakhirnya,bahwa dia pasti akan kembali,diapun kembali seperti janjinya dulu,sosok jiwa abadi telah kembali di dalam perasaanku, didalam hatiku, aku kembali merasakan kebahagiaan yangdulu kandas, karena takdir yang selalu pasti,yang takkan bisa kita hindari meski bersembunyi ke dalam lubang semut sekalipun.
Kubawa kembali lamunanku pada kesadaran setelah Angsa putih itu pergi.pergi jauh mencari biji-bijian yang jatuh dari pohon kehidupan.meninggalkan aku dalam rintik hujan pangharapan, Sekarang, aku sadar bahwa Tyessa telah kembali dengan ujud yang berbeda. Aku bersyukur pada Tuhan yang telah menumbuhkan kembali perasaan yang sama padaku seperti dahulu.Tapi aku sadar,bahwa aku tidak harus memilikinya, meski kutahu ia adalah jiwa yang lahir kembali bersama cinta abadi seorang kekasih.Tyessa adalah sosok gadis keturunan Tiong-Hoa kekasihku dulu yang telah pergi untuk selama-lamanya akibat terjangan mobil dengan kecepatan tinggi, menghantam sebuah kendaraan
yang akhirnya terpental ke badan jalan, padahal dari arah berlawanan sesosok Malaikat maut bertubuh tinggi besar dengan kaki-kakinya yang kokoh telah siap menyambut tubuh yang tak berdaya itu.Jiwaku mengerang mengiringi kepergian Ruhnya.
Malam merambat pelan dengan sayap-sayap pekatnya.sesekali suara-suara burung malam mengisi keheningan di hatiku, sunyi.seakan-akan Ruh-ruh
angkuh sepakat mengakui keperkasaanya sehingga memilih untuk tetap berada
didalam kamar tubuhnya yang sombong.Jiwaku kosong menatap bintang-bintang
di angkasa raya, gemerlap bagai kunang-kunang di pekuburan nenek
movanqku.Seienak ku berdiri,menikmati sentuhan angin dan pelukan embun
malam.Aku sendiri,dibawah teras kehampaan hatiku, aku rindu pada kekasih,aku
rindu kemurahan Hati llahi.Dering ponsel membuyarkan anganku, mengembalikan kekusyukanlamunan atas rasa syukur pada Sang Pencipta, kulihat pada layar ponsel,aku
terperanjat bukan kepalang karena nama yang tertera adalah sosok gadispujaanku namun kututupi rasa kekagumanku padanya.Gadis lugu dan Orisinalberwajah Oriental, tidak jauh beda dengan Tyessa-ku, sebab ia adalah adikkandungnya semata wayang. Gadis mungil yang dulu sering ku goda,ku ejek saatdulu aku masih bersama kakaknya.tapi ku kagum pada kecerdasaan otaknya.danterutama pada kepiawaiannya merawat pesona tubuhnya,sehingga aku menjulukinya Angsa putih.
Aku melarang perasaanku sendiri untuk mencintainya, sebab,mencintainya sama juga menyakiti jiwa mendiang. Hatiku masih belum maumenerima cinta siapapun. Aku tak ingin membuat dia sengsara disana.Tapi,kadang-kadang aku merasakan perasaan yang sama apabila dekat denganTyas.parasaan akan kekaguman, simpati, dan hasrat seorang kekasih.
Seperti pada tahun-tahun yang lalu, disetiap tanggal dan bulan
kematiannya,Tyas selalu mengingatkanku untuk mendoakan mendiang, dan
sempat pula menanyakanku apakah aku sudah menemukan kembali kakaknya
atau belum.
“Atas nama cinta dan kasih sayangku kepada mas Yudha, kalau masYudha bersedia,aku rela menggantikannya.itupun kalau mas tak keberatan.akutahu mas begitu cinta dan sayang pada kakakku.tapi ketahuilah bahwasanyakakakku tak kan mungkin pernah kembali, biarlah jiwanya tenang disisiNya.kesetiaan bukan berarti harus menyiksa perasaan mas sendiri,aku tak tegamelihat mas terus-terusan begini,, kakakku pasti bahagia asal mas jugabahagia,dan aku sangat paham dengan perasaan mas,aku ikhlas melakukannya,aku rela menjalaninya, aku tahu sebenarnya mas Yudha juga diam-diam
menyukaiku.tapi mas takut mengutarakannya karena begitu kuatnya cinta mas
Yudha pada kakakku.”
Kata-kata Tyas belum mampu menggoyahkan keteguhanku, mungkinkarena aku yang begitu keras kepalanya, sehingga membuat kecewaperasaanya.Tapi.ia begitu sabar dalam penantian.jiwanya begitu tabah dalampengharapan.Sebenarnya dalam relung hatiku yang paling dalam, akupunmenyayanginya, tapi aku tak ingin merebut kebebasannya,merebut dunianya,biarlah kukubur dalam-dalam bersama penantianku yang semu.
Sekarang…,dunia begitu sunyi kurasa tanpa kehadiran seorang kekasih,
pergantian waktu begitu cepat, malam dan siang berkajaran saling mendahului
satu sama lain. Aku kalah, aku menyerah pada Alam.
Malam ini 12 tahun yang lalu adalah malam dimana Ruh sang kekasih di
panggil menghadap Yang Esa, aku gemetar mengingatnya, dan aku menyesal
dengan prinsipku bertahun-tahun lamanya.Aku sadar, bahwa kekasihku memang
tak mungkin kembali.Namun kini perasaaku tiba-tiba kenbali seolah-olah jiwaku
hidup kembali seperti dulu,bersama jiwanya yang suci, bersama jiwa yang diam-
diam kukagumi,yang rela menjalani demi cinta abadi seorang kakak.Tyas,maafkan
aku yang telah beberapa kali membuat engkau kecewa, benar sekali apa yang
engkau ucapkan dulu,bahwa sebenarnya aku juga menyayangimu dan kagum
padamu seperti yang kurasakan waktu dulu.
Lama sekali kubiarkan deringan di ponselku, kubaca kalimat dilayar:”TYASMEMANGGIL…”
Aku tersenyum dan tiba-tiba aku teringat kata-kata terakhir dari Tyessa:
“Kamu jangan sedih, karena aku pasti akan kembali…”
Kuangkat ponselku kedekat telinga sambil pikiranku menerawang jauh menembus
gemerlap bintang-bintang, planet-planet ruang angkasa.melesat jauh masuk
kedalam ruang hampa udara sehingga nafasku terasa sesak.Telingaku sakit dan
aku baru sadar bahwa ternyata telah beberapa kali ponselku berbunyi:”HALO”
berulang-ulang yang semakin lama semakin keras!
“Eh iya, halo?!,..Tyas ya, apa kabar?” jawabku gugup.
“lya mas Yudha, kabarku baik-baik saja, mas sendiri apa kabarnya?”sahutnya ramah.
Aku diam sesaat,aku bingung harus berkata apa,di satu sisi aku bahagia.di
satu sisi aku takut kahilangan parasaanku yang mulai tumbuh kembali, aku takut
apabila Tyas menolak cintaku. Padahal, hanya pada dialah kupertaruhkan
segalanya,aku tak kuasa menghadapi moment ini.
“Halo ?!mas sakit ya?” tanya Tyas kemudian.
“Ah tidak kok,aku baik-baik saja Tyas, cuma aku sedikit capek saja,”
jawabku sekenanya. Padahal aku ingin sekali mengatakan bahwa aku sangat
mengharapkan kehadirannya disisiku. Dan aku ingin mengatakan padanya bahwa
aku rindu sekali menatap danau kesejukan di bola matanya seperti waktu-waktu
yang lalu.
“Syukurlah kalau begitu mas Yudha, aku hanya ingin mengatakan sesuatu
pada mas sel…”Kalimat Tyas seketika berhenti karena aku potong, aku larang ia
mengatakannya melalui telefon, sebab aku tahu seperti biasanya ia pasti akan
mengingatkanku untuk mendoakan kakaknya disaat tanggal dan bulan
kematiannya,dan juga pasti akan menanyakanku apakah sudah menemukan
kakaknya atau belum.Tapi kali ini aku ingin menjawab langsung dihadapannya
dengan jawaban: “Hampir”. Rencananya besok pagi-pagi sekali ia akan datang
menemuiku seperti apa yang dikatakan sebelum ia menutup telefonnya. Dan
sudah barang tentu akan kusambut kedatangannya dengan cintaku, dengan gelora
asmara yang lama tertimbun oleh longsoran-longsoran waktu.
Malam ini, gejolak-gejolak asmara jiwaku tak dapat kubendung,hatiku
meloncat kegirangan karena bahagia,detak jantungku berpacu keras mengalahkan
detak jarum jam dinding yang kurasa semakin lambat saja. Aku menerka-
nerka.membayangkan pertemuanku dengan gadis pujaanku, gadis Angsa putih
dengan sorot matanya yang teduh, paruh merah yang segar alami, lekuk tubuh
yang pasti semakin sempurna, dan pada akhirnya aku terlelap dalam angan dan
khayalan bunga-bunga asmara.
Alarm pada ponselku mena.rik-narik mengajak mimpi kembali ke alam
sadarku pada pukul 5 pagi tepat seperti apa yang disepakatinya tadi malam. Aku
segera bangkit meninggalkan khayalan-khayalanku pada sang pujaan, dan
menyegarkan pikiranku dengan guyuran air kehidupan, merapikan diri bersiap
menyambut si Angsa putih impian dengan rasa penuh semangat dan
opf/m/s^Kubuka jendela hatiku lebar-lebar agar angin kebahagiaan dapat masuk
kedalam ruang jiwaku, kulihat lagi pada jam dinding.
“Ah, masih pagi…” pikirku dalam hati.Kucoba berkaca sebentar, melihat diri yang lain sambil kutanya:”Apa kabarkawan, sudahkah kamu sanggup menerima apapun yang terjadi?” Akumenggelengkan kepala.dan diapun ikut menggelengkan kepala keheranan.      Setiap aku tanya beberapakali justru akusemakin bingung menjawabnya, sebab, ia juga
menanyakan padaku seperti apa yang ku ucapkan. Belum puas rasanya aku asyik
tanya jawab dengan diriku, samar-samar telingaku menangkap suara yang
sepertinya pernah ku dengar. Ya,itu Tyas! pikirku.
Aku berlari kearah daun pintu rumahku, segera kubuka lebar-lebar seperti
hatiku. Aku mendapati sosok yang benar-benar aku kenal.
“Silakan masuk Tyas, Om,…” sambutku pada mereka.
Aku pikir Tyas akan datang sendiri seperti tahun-tahun lalu seperti yang
kukhayalkan tadi malam dengan raut pangharapan yang ceria.Tapi,sekarang dia
datang dengan wajah muram dan luhglai. Aku heran, tak kutemukan paruh merah
yang segar lagi di bibirnya, hanya genangan air waduk kelopak matanya yang
meluber kesegala arah bersama henyakan pantatnya di sofa ruang tamuku.Aku
berfikir dalam hati, siapakah lelakr itu? dan bayi yang digendongnya itu
anaknyakah? sedangkan yang kutahu dia tidak mempunyai paman atau kakak
laki-laki. Aku bingung dibuatnya, sehingga aku memberanikan diri untuk
menanyakannya.
“Sebelumnya aku minta maaf Tyas, bolehkah aku tahu dulu kamu ini datang
dengan siapa?” tanyaku pada Tyas sambil mataku mengisyaratkan bahwa yang
kumaksud adalah lelaki di sebelahnya itu.
“Maaf mas Yudha, sebenarnya ini yang mau kusampaikan pada mas,ini
adalah…”Tyas sedikit terkejut dan berhenti bicara karena lelaki itu tiba-tiba berdiri
dan membungkukkan badannya kearahku.
“Kenalkan, saya Guntur suami Tyas,” lelaki itu seketika mengulurkan tangannya kearahku.
Tubuhku gemetar tak dapat ku kuasai, aliran darahku seakan -akan
berhenti seketika, dan benar-benar Tyas datang membawa guntur yang
menyambar-nyambar anganku, sehingga hangus terbakar. Jiwaku padam,dan
khayalanku musnah ditelan sorot mata lelaki itu.Aku linglung.jiwaku pergi ke antah-
berantah,hatiku menangis pilu layaknya anak kecil yang kehilangan mainan, aku
menatap lemas uluran tangannya sambil kusambut dengan uluran tanganku pula.
“Yudha.” jawabku pasrah.
Aku sudah tak punya kata-kata lagi,hanya guratan-guratan penyesalan
diwajahku saja yang jadi jamuan tamu didepanku.Tapi,paling tidak aku harus
berusaha mengeluarkan isi hatiku pada orang yang ku tuju. Supaya aku
lega,supaya Angsa putih impianku itu tahu kalau aku pada dasarnya mencintainya
Dengan sekuat tenagadan sisa-sisa kalimat yang berhamburan, kucoba kucari dan
kususun kembali meski aku kesulitan mendapatkan dimana letak kalimat itu
sekarang. Kulihat air mata Tyas mengalir kepipi tanpa tertahankan, dan sepertinya
tak tega melihat perubahan raut wajahku yang drastis.
“Jadi… kamu, sudah. ..menikah ya?” tanyaku terbata-bata.
“Syukurlah kalau begitu Tyas, itu…artinya kamu telah menemukan
kebahagiaanmu,aku…turut bahagia meski aku kecewa.Kalau tahu begini.alangkah
baiknya mungkin kamu jangan datang saja sekalian,karena kau tahu bahwa ini
sangat menyakitkan, karena sebenarnya…aku menyayangimu dan kagum
padamu, tapi aku tutup-tutupi karena aku belum sadar bahwa sesungguhnya
kakakmu itu tak kan mungkin pernah kembali.Sekarang aku sadar bahwa
penantianku itu sia-sia belaka. Biarlah kematiannya membawa cinta abadinya.Tapi
yang lebih utama ijinkan aku mengatakan sesuatu padamu agar aku tenang
meskipun terasa aneh menurutku. Tyas, aku mencintaimu, aku bersedia
menerimamu apa adanya. Hanya itulah ungkapan terdalam dilubuk hatiku,dan
sekarang aku lega, aku bahagia karena kaupun bahagia.” Terasa sekali aku
memaksakan ucapanku.
“Belum mas, aku belum bahagia.” jawaban Tyas seakan-akan
menghentikan hembusan angin yang keiuar masuk ventilasi rumahku, aku sontak
terperanjat, kutatap dalam-dalam bola matanya, ku alihkan pada lelaki yang duduk
di sebelahnya, tenang dan berwibawa.
“Apa maksudmu belum? bukankah dia itu…” kuhentikan kata-kataku
karena kulihatjari Tyas mengisyaratkan untuk diam.
“Om Guntur.saya mohon tolong jelaskan yang sesungguhnya sebelum
keadaan semakin tak karuan,” pinta Tyas pada lelaki itu.
“Begini dik Yudha, saya sudah faham semuanya, karena Tyas telah
menceritakan semuanya pada saya, ini hanyalah permainan dan sandiwara
belaka,dan sayalah sutradaranya.mengingat perasaanya yang hampir mendekati
keputus-asaan, sebenarnya Tyas juga cinta dan sayang pada dik Yudha.Tapi
sebaaai wanita.kuranglah etis apabila mengutarakannya isi hatinya sebelum orang yang dicintai mengucapkan lebih dahulu. Sebenarnya saya adalah pamannya, nenek Tyas mengangkat saya sebagai anak angkatnya waktu saya umur 5 tahun
dan saya memang tidak ada pertalian darah dari keluarga Tyas,saya kecil dirawat
neneknya dan sekarang saya menetap di Kuala Lumpur mengikuti istri saya, bayi
itu adalah satu-satunya anak saya. Dan sekarang, tugas saya telah
selesai.bukankah begitu Tyas?,” lelaki itu berhanti bicara sejenak sambil
memalingkan wajahnya pada Tyas yang lantas dibalasnya dengan senyum dan
anggukan kepala.
“Sekarang, selanjutnya tersera’h kalian, saya mohon pamit karena ada
urusan penting lainnya.” lelaki itu beranjak dari tempat duduknya sambil menjabat
tanganku erat. Sebelum akhirnya lelaki itu pergi, dengan senyum lepas Tyas
memberikan bayi yang sedari tadi di gendongnya kepada lelaki yang ternyata
adalah pamannya sendiri.
Aku melepaskan kepergian lelaki itu tanpa sanggup berbasa-basi lagi sebab
aku belum bisa sepenuhnya mengembalikan jiwaku kembali. Pikiranku kacau
sekali, serasa bagaikan dadu monopoli yang dilempar-lemparkan oleh anak kecil,
namun selang beberapa saat kemudian akupun sadar, sadar bahwaTyas
menciptakan ini semua hanyalah untuk memastikan isi hatiku padanya.
Kupandangi sosok gadis didepanku yang tengah tersenyum tersipu malu.
Kubaca pikirannya dan tak kudapati kebohongan lagi sedikitpun, yang ada
hanyalah bayangan Angsa putih yang selalu hadir dalam mimpi-mimpiku. Kamu
hebat Tyas, aku kalah dan aku makin kagum saja padamu.
“Apa yang baru saja kamu lakukan terhadapku itu merupakan hal yang
paling bodoh yang pernah kulihat, sebab kamu hampir membuatku gila, dan
menurutku kamu sekarang makin cerdas saja Tyas, karena aku tidak pernah
menduganya sama sekali, aku tidak menyangka bahwasanya ternyata kamu amat
tega terhadap perasaanku.” Aku berkata sambil pura-pura melotot dan
menunjukkan cakar-cakarku laksana serigala yang akan menerkam mangsanya.
“Tunggu sebentar mas, akan aku jelaskan permasalahannya…”
Tyas mendekat padaku lalu menjelaskan apa yang dimaksud sambil membawaku
terbang dengan sayap-sayap cintanya. Angsa putih itu menunjukkan
ketangkasannya, meliuk-liukkan tubuhnya di angkasa dengan manufer-manufer
tajam sehingga membuat tubuhku ikut melayang-layang bersama Adrenalinku.
Sukorejo, 21 Juni 2007
Penulis
Paryanto

PANGGIL SAJA AKU ANDREE, ANA . .

Sejenak kulihat jam yang tertera diponselku,sudah jam 4 sore, saatnya aku harus pulang, tapi niat ku urung karena tiba-tiba ada suara teriakan yang memanggil-manggil namaku “Mas Yanto, sini tak kasih tahu, aku dapat miscall tak di kenal nich….” Teriak Mbak Amy padaku, disore yang cerah itu. Akupun bergegas menghampirinya sambil melihat-lihat phonebook ponselku yang barang kali aku punya nomer itu, tapi ternyata tidak ada, “mbak sendiri sudah sempat kenalan belum?”
“Sudah, namanya Ana anak kelas dua SMU, tadi kita sudah sms-an”.”Dan Mbak juga sudah beritahu nama Mbak?”,” itu dia mas, aku mengaku namanya Andree, aku bingung dan takut soalnya dia ngejar banget deh”
“Halo Assalamu’alaikum ”rupanya kali ini Ana sengaja telepon untuk memastikan bahwa yang diajak kenalan itu benar-benar cowok”
“Waalaikum salam, lho kok cewek, katanya Andree?”
“Oh aku kakaknya Andree, tadi Andree pinjam ponsel aku”
“Oh gitu… ya sudah mbak, selamat sore…”
Lantas mbak Amy pun bergegas menemuiku, sepertinya sangat khawatir sekali.
“Mas ia tadi telepon aku, gimana dong”
“Begini saja mbak, jangan takut, nanti aku akan sms ke nomer itu saja dan menyatakan bahwa aku adalah Andree dan mbak adalah kakakku”
Beberapa saat kemudian “Halo aku Andree ini nomerku, tadi itu nomer kakakku, lagi apa nich?”kira-kira begitu tulisan yang aku buat.
“Aku lagi masak, kan nanti aku berangkat sore, mas Andree lagi ngapain? “jawaban Ana lewat sms pula”.
“Aku lagi ada di Semarang, dan sebentar lagi mau pulang”
“Okey hati-hatilah dijalan”.
Sejenak pikiranku berontak, aku sudah berbohong, tapi sudahlah tadi itu balasan bagi orang-orang yang suka iseng”, hiburku pada diriku sendiri.

Pagi yang dingin membuatku enggan untuk melepas selimut yang menyetubuhi aku setiap malam, tapi pagi itu menjadi terasa hangat saat membaca pesan singkat dari Ana.
“Pagi mas Andree, sudah bangun belum, bangun dong kan sudah jam lima”
“Pagi mas Andree sudah bangun dan sholat subuh belum?”
Dan hampir tiap pagi dia setia membagunkan aku, serasa dia menemani aku setiap kali fajar menyingsing, sejenak pikiranku melayang dan berinkarnasi pikiran ke tempoe doeloe.
“Selamat siang mas Andree, sudah makan belum ngomong-ngomong mas Adree masih sekolah atau sudah kerja?” begitu tulisan yang kubaca dilayar phonsel aku, kali ini aku memang sangat keterlaluan, jariku menari tanpa kenal dosa menecet-mencet keypad mencari huruf-huruf rekayasa dan kebohongan yang sama sekali tanpa sadar aku telah membohongi Anak SMU yang sedang santer-santernya mengenal asmara, yaitu Ana.
“Aku masih sekolah, aku belajar di semarang ambil jurusan seni rupa” balasku kemudian.
Ah! Seni rupa apanya, terus bagaimana kalau dia tanya semester berapa, kos dimana, fakultas mana, sedangkan aku padahal seorang bapak dan seorang suami yang dua hari sekali memberi jatah belanja isterinya kurang dari 25.000,- Ah! Aku sudah berdosa pada anak yang masih polos dan lugu sebaya dengan keponakanku sendiri, gombal!!

“Sori mas baru bales, aku dari makam bapakku dan nanti malam mau bantu-bantu ibuku masak karena akan ada tahlilan dirumahku”. Ana membalas smsku sore itu, begitu pesan singkat ku baca, kubaca lagi, kubaca lagi sampai tiga kali seakan-akan aku tak percaya bahwa aku telah dengan sadar dan terang-terangan membohongi seorang Anak yatim, maafkan aku Ana, maafkan aku Tuhan…

Apakah aku harus berhenti disini? Tidak ! itu hanya menambah sakit hati Ana saja, itu karena Ana dan aku sudah dekat, dekat sekali, meski kami belum pernah bertemu sekalipun, tapi cinta adalah soal hati, soal perasaan, kalau aku berhenti disini itu artinya aku telah mempermainkan perasaan Ana. Sedangkan aku tahu bahwa Ana beru saja ditinggal kekasihnya. Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku tak tahu, aku mengalir saja mengikuti arus yang dibawa Ana, seperti layaknya sesuatu yang aku tinggalkan tiap pagi di kali belakang rumahku, kotoranku sendiri.
“Memangnya mas Andree rumahnya dimana sih? “sms Anak suatu ketika.
“Aku tidak punya rumah, aku makan, tidur dan segala macam masih ikut orang tua” begitu balasanku sambil rasanya mau mecabik-cabik otakku sendiri mulutku mengangga dan tatapanku kosong bersamaan dengan datangnya tulisan pesan singkat yang terkirim dilayar ponselku.

“Aku tahu mas sekarang belum punya rumah, aku juga belum punya maksudku kalau mas melukis aku mau lihat mas melukis gitu saja, okey deh aku doain supaya mas cepat-cepat punya rumah, entar kalau bisa aku bantu deh” rasanya bagai disambar trailer pengankut semen setelah kubaca sms Ana. Berarti Ana telah nenaruh harapan yang sangat kuat padaku, aku tak kuasa, berbagai pertanyaan menghantuiku, apakah aku harus berselingkuh ? apakah Ana sekarang ini telah kembali merasakan kebahagiaan yang tertunda? Berbagai inisiatif telah aku pikirkan dan hasilnya aku harus meneruskan kisah ini aku tidak mau merusak suasana hati Ana. Aku terlalu kasihan, terlalu sayang, dan mungkin aku telah jatuh cinta lagi. Ah tidak! Ana mencintai Andree, dan Andree adalah otak dan jariku semata, aku aman, karena, aku hanya teman baik Andree setahu Ana, dan Ana tahu itu. Ana terus ada dalam pikiranku tak dapat kupungkiri bahwa separuh jiwaku telah dicuri oleh Ana, aku tetap harus jadi aku, tak boleh jadi Andree manapun. Karena aku telah berkeluarga, punya Anak yang sudah TK, istri yang setia, rumah, pekerjaan, kurang apa aku? Aku tak mau masuk kedalam golongan orang-orang yang tamak, serba kurang, dan berengsek, bah!

Aku semakin penasaran pada Ana, itu karena tulisan dan kalimat-kalimatnya yang sangat santun, penuh perhatian, seolah-olah bukan tulisan Anak SMU yang baru mengenal cinta.
Strategipun kulancarkan untuk menuruti emosiku lewat phonselku yang tidak laku dijual itu. “Ana, maukah kamu kapan-kapan mampir ke kios mas Yanto? Kalau bisa hari minggu besok gimana ? kayaknya aku pulang deh… “ Aku melepaskan kalimat itu sambil dalam hati berkata terkutuklah aku, hukumlah aku sekarang juga Tuhan… tapi Tuhan memang maha Bijaksana, aku anggap Tuhan telah memberikan kenikmatan rasa yang lain kepadaku, rasa nikmatnya mendua, tapi sayang kali ini aku gagal bertemu Ana, karena Ana belum tahu tempatnya mas Yanto, yaitu aku sendiri. Suatu ketika Ana sms menanyakan keberadaanku, itu sangat realistis, dan aku memakluminya, dan kinilah saatnya aku melihat seberapa besar cintanya padaku, aku membimbingnya lewat kata-kata yang mungkin belum pernah Ana dengar. “Kamu mau tahu Ana, aku sekarang ada dimana? Caranya begini kamu harus konsentrasi, pejamkan mata, tarik napas dalam-dalam, hembuskan pelan-pelan dan rasakan… setelah itu jawabanmu aku tunggu ya…” “Mas Andree… sekarang aku tahu dan aku tak bisa bohong bahwa kamu ada disini, di hatiku…” Brak!!!… rasanya aku ditendang jauh sekali oleh raksasa sambil matanya merah, melotot, aku sadar bahwa mungkin arwah Bapaknya tidak terima kalau Anaknya aku perlakukan seperti itu, aku telah membuat Ana jatuh cinta sama Andree, yaitu diriku, diriku yang lain.
Aku lemas dan rupanya Ana telah sampai sejauh itu, lalu apa yang kudapat? kebahagiaankah?… Toh aku tanpa begitupun telah bahagia… Ah, aku anggap membahagiakan orang lain itu sama juga sebuah pahala aku bisa melakukanya sekarang, tapi soal harapan – harapan Ana? Aku tak tahu, yang aku tahu aku tak boleh jatuh cinta pada Ana, meski aku yang lain telah jatuh cinta, yaitu Andree, itu karena aku adalah sang aktor. “ Mas maaf mas baru bales, karena kerabat aku ada yang meninggal, “Emang siapa yang meninggal?” “Kakekku…” Begitu selesai membaca pesan singkatnya hilang sudah pikiranku, oh tuhan… bagaimana aku sekarang? Haruskah aku datang pura-pura mewakilkan Andree? Itu tidak mungkin, karena aku bukan siapa-siapanya Ana dan Ana tidak tahu siapa aku. Aku harus ambil siasat dengan membalas bahwa aku disemarang kek, lagi sibuk kek… Ah !!! pengecut!” Nggak apa-apa kok mas Andree, lagian mas Andree lagi sibuk, pokoknya mas disana jangan terlalu banyak pikiran karena aku ya… aku doakan supaya mas sukses bikin sekripsinya” Mataku pedih, kepalaku tertunduk lemas, pikiranku kosong seperti dompetku yang dari pagi belum terisi.

Suatu malam ketika ponselku bergetar… kubuka dan kubaca satu – persatu susunan kata yang dibuat Ana. “… Mas Andree, aku ingin lihat kamu hadir disini…” “Aku kira tidak bisa sekrang deh Ana, kamu tahu kan? “balasku.” Ya aku tahu mas aku akan lihat kamu lewat mata hatiku, memang aku tidak bisa lihat, tetapi bisa merasakan kamu hadir disini, dihatiku, selalu setiap waktu selamanya…” Rupanya jawaban Ana membuktikan bahwa aku telah berhasil mencuri hatinya, melambungkan harapan-harapan, dan menikmati apa yang ia rasakan saat ini, “Ana kamu sudah kena”. Bisikku dalam hati. “Tuhan memang mengaugerahkan kita kenikmatan yaitu sebuah rasa dan rasa yang sangat kuat itu bisa menyatukan dua insan yang saling sayang, membutuhkan satu sama lain meskipun orang itu belum pernah bertemu sekalipun.” Begitu kira-kira penggalan kata mutiara dari Ana yang membuatku pusiang tujuh keliling. Sempat suatu ketika aku akan mengatakan diri aku yang sebenarnya, tapi aku tak tega, aku terlalu sayang, tapi kalau aku teruskan apa tidak menambah sakit hati Ana? Sedangkan pada dasarnya Andree tak mungkin bisa muncul, karena sosok Andree semu, hanyalah cip kartu ponsel yang ku pakai.
Dan karena sosok Andree adalah jiwaku belaka, tak punya raga tak punya tempat tinggal, hanya didalam hati Ana saja Andree berada. Lantas apa arti cinta mereka? Ana, sebenrnya aku bukanlah Andree yang kamu kira, kamu salah Ana, aku tak bisa kamu miliki secara utuh sedangkan kamu sangat berharap sekali. Harapan-harapanmulah yang membuatku bersedih,aku sangat menyesal,maafkan aku Ana…’’Jadi mas Andree selama ini tidak jujur ya,mas sebenarnya siapa sih,tak mungkin sebuah cip kartu ponsel bisa mengoperasikan sendiri kan?kalau mas tidak jujur sama aku tidak apa-apa kok,tapi paling tidak mas jujur pada diri sendiri, pada hati mas, mas Andree aku teteskan air mataku untukmu…
”Kamu tidak megerti Ana, kamu tidak paham sayang… Karena apa yang aku katakan itu memang benar adanya”.
“Mas Andree, aku perlu tahu siapa mas sebenarnya, kamu tahu aku suka orang orang yang jujur, apa mas dulu sudah sempat kenal aku? Mas nggak mau kan aku banyak pikiran karena penasaran…”
”Ugh!… terasa sekali tonjokan Ana, bahwa Ana mulai mencium kebusukan dan kebohonganku, aku tak bisa berbuat banyak, aku hanya pasrah, dalam kondisi ini aku terasa bagaikan manusia tanpa wajah, kuraba dari jidad sampai dagu, rata, rata sekali”
“Ya sudahlah mas, aku pasrah saja pada Allah, biarlah ku anggap kamu itu temanku yang paling baik, yang mau menerima curhat aku, memperhatikan aku, menemaniku setiap tidur malamku karena hanya Allah lah yang tahu semua yang mahlukNya sembunyikan, aku hanya bisa berdo’a semoga mas dibukakan pintu untuk bisa jujur padaku, orang yang iklas mencintai mas apa adanya.
” Ana sebaiknya aku tulis surat saja untuk kamu, supaya kamu paham, supaya kamu tahu siapa aku sebenarnya, akan ku titipkan surat itu besok di tempat mas Yanto, kamu ambil disana”.

Ana, sebenarya aku adalah pengarang cerpen remaja yang sedang mencari inspirasi, aku harus mematuhi aturan-aturan mengenai batasan-batasan profesonelisme dalam berkarya, maafkan aku jikalau aku selama ini bohong padamu, meski sebenarnya dalam hatiku juga ada kamu, ini aku buat seolah-olah nyata bagimu, walaupun sebenarnya tokoh-tokoh didalamya fiktif belaka. Andree itu tak pernah ada, itu hanya rekayasaku saja, mengenai nama Amy, Adi, dan Andine juga tak pernah ada, itu sengaja aku buat supaya terkesan real, terkesan keberadaanku kau anggap nyata, maafkan aku Ana, tapi aku pasti akan tetap menghubungi kamu itu kalau kamu bersedia, dan aku masih mau menerima curhat kamu, aku akan selalu ada untuk kamu, kalau masih mau memerlukan aku hubungi nomer ini. Aku bersedia kapanpun kamu mau. Andree-mu.”

Begitulah kira-kira petikan suratku, dalam hati berkecamuk berbagai pertanyaan apakah Ana jadi putus asa? Dan apakah Ana masih mau menghubungi nomerku? Oh Ana… Andai kamu tahu, andai aku punya sosok “Andree” itu sekarang juga, pasti aku tidak akan membuat cerita busuk ini. “ Tidak apa-apa mas, aku terima, mungkin ini sudah takdir aku dan janganlah mas menyalahi aturan-aturan profesionelisme itu, aku bangga jadi Ana, sosok Ana yang dimuat dalam cerpen mas. Aku rela, aku ikhlas, dan aku akan membantu mas menyelesaikan cerita yang mas buat agar tidak buntu. Aku ikhlas melakukanya demi mas, jangan disesali dan jangan bersedih karena itu akan membuat mas pusing, dan aku akan selalu ada untuk mas, mas Andree ku… ku teteskan air mataku untuk mas…” Tak terasa sekujur tubuhku nyeri semua, lemah, tak ada tulang, kerangka, dan rasanya darahku berhenti mengalir setelah aku baca pesan singkat dari Ana. Aku semakin tak tega, sunggug bijaksana hati Ana, merelakan perasaanya dipermainkan oleh orang berengsek seperti aku, orang yang mengaku sebagai pengarang, orang yang paling disayangnya, Andree…” Halo mas Andree, lagi apa? Sudah dibikin belum cerpennya? ada yang bisa aku bantu tidak? aku masih Ana yang dulu kok.” Begitu selesai ku baca, mataku tertuju pada tulisan “Andree” sedih sekali aku melihatnya, rasanya tanganku gemetar, dingin… ingin sekali aku teriak sekeras-kerasnya. “Oh ya mas sekarang aku mesti panggil kamu siapa?” Aku harus membalasnya, khusus untuk Ana! “Panggil saja aku Andree, Ana.” Aku mengerutu sendiri seperti orang gila.
Semakin ku ingat nama Andree semakin pedih pula rasanya hati ini, Ana aku benar-benar berdosa padamu, pada orang yang tulus ikhlas menyayangiku, dan menaruh harapan besar padaku, pada orang yang sudah beristri, padaku. Dan kamu belum tahu yang sebenarya, aku tak akan mengaku-aku bahwa akulah sebenarnya Andree itu. Itu hanya membuat kamu bingung saja, biarlah waktu yang menjawabnya, biarlah Ana tahu dengan sendirinya, karena sepintar-pintarnya orang menyimpan bangkai pasti lambat laut pasti akan tercium juga, dan aku sangat menyadari ungkapan itu. Seperti yang telah aku katakan pada Ana, bahwa Ana kalau mau kirim sudat lewat mas Yanto saja. Anapun setuju karena belum tahu bahwa mas Yanto itu adalah Andree-nya, dan Andree adalah aku. Kubuka sampul surat warna putih dan sepertinya isteriku sudah berusaha membukanya, tapi tidak jadi, aku tahu mungkun isteriku curiga dan ternyata memang curiga.

Kepada mas Andree-ku.
Assalamualaikum Wr. Wb. Mas suratmu telah aku baca, mas kamu tidak salah padaku jadi kamu tidak perlu minta maaf padaku aku juga suka kalau mas jujur, soal waktu pikiran dan perasaanku jangan terlalu mas pikirkan karena aku iklas melakukannya. Apalagi itu bermanfaat dan bisa membantu orang lain.
Aku sekarang sudah tidak penasaran lagi tentang siapa mas yang sebenarnya, aku juga senang dan bangga mempunyai teman seorang seniman meski nama sebenarnya aku tidak tahu, tapi biarlah waktu yang menjawabnya. Aku mungkin tidak tidak akan tahu siapa mas untuk saat ini tapi aku masih punya harapan untuk mengenalnya, karena Allah masih akan selalu ada untuk hambaNya dan Dia akan senantiasa membantu hamba-hambaNya yang mau berusaha dan memerlukan pertolongan darinya. Andree memang tidak akan pernah berujud karena nama itu hanya ada dalam cerita. Tapi nama Andree akan selalu ada dihatiku karena ia sempat hadir dan memberikan motivasi dalam hidup dan hari-hariku. Mas pengarang aku tidak akan pernah mencacimaki orang meski orang itu berbohong padaku. Karena aku juga tak ingin nantinya orang mencaci maki aku hanya karena sebuah kesalahan. Mas kalau mas masih memerlukan aku untuk inspirasi dan menyelesaikan cerpen yang mas buat aku selalu siap dan ada untuk membantu mas, karena itu juga kalimat yang aku ucapkan untuk mas Andree. Mas aku juga berterimakasih kepada kamu karena aku bisa merasakan rasa cinta dan sayang seperti dulu, yang pernah aku rasakan sebelum paarku pergi meninggalkan aku. Aku sekarang sudah sangat lega aku juga tidak akan pernah marah dan benci sama mas karena kita sama-sama mahluk ciptaan Tuhan.
Mas, pesan mas akan selalu aku ingat, aku akan tetap belajar yang rajin dan membantu orang tua. Kaena hanya itu yang bisa aku lakukan untuk orang tuaku sekarang. Terimaksih banyak karena mas akan selalu membacakan surat yasin untuk arwah bapak dan kakek aku. Aku Ana, masih akan menyediakan “rumah” untuk kamu meski tak terhuni dan aku juga akan tetap jadi teman yang baik untukmu, serta sahabat yang selalu ada untuk kamu.
Wassalamualaikum wr. wb. Ana

Sangat terasa sekali desiran aliran darahku dari ubun-ubun sampai telapak kakiku setelah aku baca surat dari Ana. Aku menangis, jiwaku tersayat, aku tak kuat, kurebahkan badanku meski ku tahu tanpa alas tikar di ruang tengah rumahku, kotor kurasa, sekotor otakku, setamak pikiranku. Oh tuhan dosa apa yang telah dilakukan Ana sehingga ia mengalami situasi sekarang ini? Situasai yang aku buat situasi yang sekedar menghiburku disela-sela urusan-urusan hidupku. Situasi yang tak sebanding dengan honorku sebagai pengarang, sebagai pembohong besar. Itulah aku, Andreemu Ana. Tuhan kuatkan batin Ana dan tabahkanlah dia. Aku akan selalu jadi Andreemu, meski semu, selamanya… Ana panggil saja aku Andree, agar kamu merasa terhibur.

Sukorejo April 2007
Penulis,

PARYANTO

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.