DIARY PRAMESWARI
Tepat pada tanggal 15 Mei 1982 lahirlah bayi perempuan yang mungil, dia diberi nama Musyafaah, anak ke empat dari lima bersaudara dari pasangan yang berbahagia. Bayi tersebut tumbuh menjadi gadis kecil yang manis dan lucu. Namun dibalik itu semua tidaklah ia merasa selalu bahagia sebab penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh, padahal memang sudah jadi hal yang wajar bahwa anak kecil itu kadang kurang bisa menjaga kesehatannya, maka seperti orang jawa bilang: Mungkin namanya tidak cocok dan harus diganti!
Lantas ia mengganti namanya sendiri menjadi Mustika Aji Prameswari, cantik sekali!
Nah! Prameswari kecil ini tumbuh menjadi gadis yang begitu lincah, ceria, terampil dan mudah bergaul. Singkat cerita, setiap lelaki rasanya ingin sekali untuk memilikinya, padahal Prameswari adalah gadis yang biasa-biasa saja, tidak begitu cantik, tapi orang-orang disekitar tempat tinggalnya mengakui bahwa dia gadis yang cerdas dan menyenangkan. Padahal dikampungnya banyak sekali gadis-gadis yang lebih cantik dibandingkan dengan dirinya. Bahkan hampir setiap malam di usia yang masih remaja belia tersebut banyak berdatangan pemuda-pemuda kampung sebelah rumahnya datang silih berganti hanya untuk mengobrol ngalor-ngidul. Apalagi kalau malam minggu, start mulai jam 7 sampai tengah malam Prameswari remaja masih selalu setia menemani ngobrol pemuda-pemuda yang datang dengan ”pasukan” nya masing-masing.
Terkadang Prameswari ini heran dengan dirinya sendiri, mengapa dia sampai banyak disukai oleh orang-orang, terutama kaum Adam. Mungkin karena dia tidak suka membeda-bedakan orang [low profile] dan mungkin juga dia suka dengan keramah-tamahan, dan yang sangat menonjol dari dirinya mungkin karena dia mudah sekali beradaptasi dengan lawan bicaranya. Itulah Prameswari.
Sang pangeran datang dengan pasukannya, lalu pergi, datang lagi pangeran yang lain, lalu pergi lagi, terus…sampai Prameswari bingung, apa yang harus ia jawab seandainya orang tuanya bertanya: ”Pilih saja satu, yang kau cintai!” Ach…cinta, itu sangat jauh dari pikirannya, sebab dia harus belajar dan terus belajar untuk meraih cita-citanya, meskipun pada dasarnya dia juga sering tak ada kesempatan untuk belajar! Untung saja dia diberi kecerdasan oleh Tuhan, sehingga mudah untuk membagi waktu.
Mungkinkah tujuan dari kedatangan para pemuda-pemuda tersebut untuk mendapatkan hatinya? Mungkin saja, tapi bagi Prameswari semua itu cuma sebatas berteman atau bersahabat semata. Itu dalam pikirannya, namun tidak bagi seorang pemuda berinisial R yang umurnya jauh diatas Prameswari yang datang secara resmi untuk meminangnya dimalam yang bahkan tak pernah terpikirkan olehnya tersebut.
Dengan tiba-tiba dan berterus terang ingin memperistri Prameswari, bagai disambar petir dimalam hari! Hati Prameswari sontak kaget, tak pernah terbayangkan olehnya bahwa ada seorang pemuda yang umurnya jauh diatasnya telah melamarnya, yang membuatnya syok dan bersikeras tidak mau menerima lamarannya dengan alasan masih ingin melanjutkan sekolah.
Prameswari menangis dipangkuan ibundanya, untuk meminta agar tidak menerima lamaran pemuda yang jauh dari harapan dan angan-angan tersebut. Prameswari berkata kepada sang ibu: ”Saya masih sangat muda dan belum cukup umur untuk melakukan semua ini bu…belum sepantasnya saya untuk menikah, apalagi umur saya begitu beda jauh dibandingkan dengannya, lagian dia bukanlah lelaki pilihan saya, saya masih ingin menuntut ilmu bu…” Akhirnya kedua orang tua Prameswari menyadari kondisi saat itu dan dapat memahami maksud anak gadis tercintanya. Ditolaklah lamaran pemuda tersebut dengan cara halus serta menjelaskannya secara baik-baik.
Keluarga si pemuda akhirnya pulang seolah-olah mau mengerti keadaan Prameswari, setelah kepulangan si pemuda tersebut bangkitlah kembali hatinya menjadi tenang seperti sedia kala.
Satu minggu berjalan, semula tidak terjadi apa-apa dengan ditolaknya lamaran tersebut, namun pada hari kedelapan apa yang terjadi? Si mantan pelamar tidak terima, dia merasa malu pada masyarakat sekitarnya karena banyak teman sejawat dan tetangga pada bilang kepadanya: ”Kamu lelaki yang tidak masuk kriteria Prameswari, kamu sungguh memalukan datang melamar tapi ditolak!” Kebanyakan teman-teman si pemuda menertawakannya, saking tidak kuatnya menerima hinaan dan ejekan teman-teman maupun orang-orang disekitarnya timbullah niat jahat untuk hanya sekedar dapat membuktikan bahwa ia sanggup menaklukkan hati Prameswari, dengan jalan apapun!
Niat jahat itupun berhasil, yang semula hati Prameswari sedikitpun tak ada simpati kepadanya akhirnya luluh, ia merasa iba dan tergila-gila kepadanya. Rupanya usaha si pemuda tersebut tidak sia-sia, selang satu minggu kemudian diterimalah lamaran yang kedua kalinya dengan tangan terbuka dan senang hati, kedua belah pihak keluarga sama-sama bahagia sebab Prameswari mau menerima calon suaminya tanpa perasaan berat meskipun umurnya jauh dibawahnya.
Tepat pada tanggal 18 Februari 1996 pesta pernikahan dilaksanakan, dengan alasan ibu si pemuda sudah tua dan takut apabila beliau tidak dapat melihat anak lelakinya menikah, itu semua juga atas permintaan si calon suami karena takut apabila Prameswari berubah pikiran, tapi anehnya setelah pernikahan dilangsungkan serta status Prameswari yang tentu telah menjadi seorang isteri, apa boleh dikata sekolah tinggal selangkah lagi ujian dan selesai, keanehan terjadi disini, apakah itu? Prameswari minta melanjutkan sekolahnya yang tinggal satu tahun lagi! Permintaanpun disetujui oleh sang suami, setelah satu minggu berlangsungnya pernikahan, berangkatlah kembali sang isteri baru tersebut ke sekolah dan melakukan aktifitas seperti biasa meskipun banyak dari teman-temannya yang sering menertawakannya, karena sungguh jarang terjadi seorang gadis berangkat sekolah lagi setelah menikah, dan itulah Prameswari, semua ocehan dia anggap tak penting, yang lebih penting adalah bagaimana dapat meneruskan sekolah dan mendapatkan ijazah SLTP, ia tidak merasa kesulitan sedikitpun dalam membagi waktu dari belajar sampai mengurus suami, semuanya dilakukan dengan gembira dan ringan-ringan saja.Bahkan untuk kebutuhan sekolah maupun sehari-harinya ia diberi jatah kusus dari hasil sebuah kapal, dengan kata lain ia diberi sebuah kapal untuk memenuhi kebutuhannya. Sehingga baik biaya sekolah maupun kebutuhan pribadinyapun tidaklah susah payah memikirkannya.
Pada akhirnya Prameswari berhasil memperjuangkan sekolahnya sampai tamat SLTP, dan lebih gilanya lagi di masa penghujung sekolahnya ia sedang hamil 4 bulan! Tapi teman-temannya tidak tahu mengenai kehamilannya tersebut, karena mungkin kepandaian Prameswari dalam hal menyembunyikan perubahan perutnya yang mulai membuncit.
Mereka berdua hidup bahagia, dikaruniai seorang anak yang lahir pada tanggal 18 Maret 1997,laki-laki, ganteng seperti ayahnya. Tapi yang namanya berumah-tangga tentu banyak sekali masalah, dari yang namanya beda pendapat, kurangnya perhatian dan kasihsayang, sampai masalah sepelepun jadi suatu permasalahan yang amat besar dan krusial. Bermacam gejolak dalam keluarga masih dapat dipertahankan, tapi untuk urusan harga diri itu perkara individual dan ego, untuk urusan ini keluarga tidaklah penting, kebersamaan yang telah dilalui bertahun-tahunpun hilang musnah, keharmonisan yang dulu di rasakan berduapun ikut pula lari dari ingatan, dan perpisahanpun dijadikan jalan terbaik, sehingga semua perjuangan cinta menjadi sia-sia saja yang hanya meninggalkan puing-puing kenangan tanpa arti, tanpa sedikitpun bersedia memetik hikmah dari kejadian-kejadian yang dialami, hanya demi sebuah mempertahankan harga diri dan emosi, bah! Mana kata-kata cinta manis melebihi tebu yang dulu pernah dilontarkan? Dan janji-janji indah yang dulu pernah diikrarkan? Semua hilang tak berbekas, hanya meninggalkan isak tangis pilu dimalam hari, bersama sang bayi mungil tanpa dosa digendongan ibunda tercinta, yang hatinya rapuh ditinggalkan sang suami.
Prameswari menangis sesegukan, berdialog dengan sepi, berbicara dengan kebisuan hati. Merana diantara dua pilihan yang berat! Ibunda tercinta atau suami terkasih.
Hatinya limbung diterjang ombak problematika keluarga, ingin rasanya ia lari namun kakinya terbelenggu oleh tanggungjawab sebagai seorang ibu, tapi demi masa depan rumah-tangga dan anaknya, tak ada pilihan lain lagi kecuali mengikuti kehendak sang suami meskipun berat rasanya jauh dari orang tua. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Kedaulatan rumah tangga memang terancam, dan apa yang dulu hanya berada dalam anganpun kini muncul dalam kenyataan, yaitu pisahlah jalan terbaik!
Padahal Prameswari telah dikaruniai dua orang anak, yang tidak tahu apa yang akan terjadi diantara kedua orang tuanya, padahal orang tuanya berencana dan “memaksa” mereka berdua untuk mempunyai ayah tiri atau ibu tiri, tergantung kepada siapa mereka menyerahkan masa depan jiwa-raganya, kepada siapa mereka mempercayakan hidupnya, atau tergantung siapa yang bakal memenangkan hak asuhnya, ibu atau sang ayahlah yang beruntung, mereka pasrah, bagai ikan hias didalam stoples.
Prameswari berjalan terseok-seok dipematang hidupnya, terbang kesana kemari bagai burung camar pengarung lautan, kerikil-kerikil tajam ia tendang, bekas bungkus snack ia libas berhamburan, melenggang bebas bagai lembu yang lepas dari ikatan, menjadi ratu tanpa pengawal, sendiri…berpegang pada tali takdir yang kadang sulit dipercaya, mencari kebenaran, hingga ia bertemu pada keadaan yang mulai stabil dalam hidupnya.
Memberikan kesempatan hati untuk kembali terbuka, setelah sekian lama tak berpenghuni, adalah dia, seorang pria gagah, bertanggung jawab, dan yang lebih penting lagi ia adalah seorang pria yang mampu menepis persangkaan Prameswari bahwa semua pria itu brengsek! Sebab kali ini tidak, pria tersebut mampu membuat hati Prameswari menjadi berharap banyak terhadapnya, singkat cerita merekapun jatuh cinta, menikah, dan membangun mahligai rumah-tangga kembali dengan tanpa mempedulikan apa status Prameswari, mereka bahagia, damai dan menemukan gairah dalam menjalani kehidupan berumah-tangga.
Luka yang dulu berbekas kini mulai dibersihkan, semakin berpengalaman merajut benang membuat Kristick masa depan, menganggap bahwa kejadian yang lalu tidak pernah ada dengan kehadiran kehidupan baru, Prameswari yakin bahwa inilah kebenaran yang bukan kebetulan, semua sangat terprogram dan terencana dengan cermat, teliti dan akurat.
Tapi manusia itu sarat dengan kelupaan, seperti halnya kita, disaat kita bahagia seakan-akan tidak akan mengalami kesedihan, saat kita sakit seakan-akan tidak mungkin sembuh dan sehat, saat kita kaya seakan-akan tidak akan miskin.
Dan begitulah yang tengah dialami Prameswari saat ini, ia begitu ikhlas kepada suaminya, membantu mengais rizki dengan bermodalkan pengalaman yang ia punyai, percaya sepenuh jiwa dan raganya, seakan-akan tidak akan lagi terjadi kejadian-kejadian seperti dulu, maka “Beruntunglah mereka” begitu kira-kira kata hati orang-orang disekitar mereka, sebab mereka mengakui adanya kesinambungan dan kecocokan diantara mereka berdua yang terpancar dari sorot mata mereka.
Kita tinggalkan sementara mereka yang berbahagia, sejenak mari kita melihat denga mata hati,jangan melalui mata dzahir saja, sebenarnya dibalik kebahagiaan mereka menyimpan bangkai busuk yang suatu saat pasti akan tercium baunya, ibarat kata pepatah: Bagai telur diujung tanduk, suatu saat telur tersebut pasti akan tergelincir jatuh, manakala keseimbangan tidak lagi berpihak kepadanya dan daya gravitasi bumi memaksanya menarik fakta jatuh kepada kebohongan yang memalukan! Tapi kita tahu bahwa semua sesuai rencana meski rencana tersebut masih rahasia dan berada didalam genggaman Dzat Yang Tersembunyi. Kita bisa beracuan pada dalil tentang keseimbangan: Mudharat sebanding dengan Maslahat, iman sebanding dengan kafir, dan seterusnya.
Bahwa disana, jauh dari pandangan mata mereka, hidup sebuah keluarga dua anak, ibu, dan sang ayah yang sedang pergi merantau di negeri seberang. Mereka senantiasa menanti kiriman kabar, tapi yang sangat ditunggu-tunggu yaitu mereka menanti kiriman uang untuk makan dan berkehidupan. Mereka bangga dengan ayah atau suaminya yang rela meninggalkan keluarga untuk mencari nafkah dan membuka pintu rizki demi mereka, mereka tak tahu bahwa orang yang amat dinantikan tersebut tengah berbahagia bersama wanita yang dicintainya, yaitu Prameswari.
Jadi, tanpa disadari Prameswari telah merenggut kebahagiaan keluarga kecil tersebut, meskipun sesungguhnya ia tak tahu-menahu bahwa suaminya adalah suami orang lain. Tak pernah sedikitpun terlintas dalam benaknya bahwa ia akan menikah dengan lelaki berstatus suami.
Waktu berjalan seperti biasa dalam masa kurang dari satu tahun usia pernikahan, belum menunjukkan ada kecurigaan dalam diri Prameswari, namun apalah daya si bangkai semakin lama semakin busuk dan berbau, entah siapa yang memulai ataukah secara kebetulan saja, waktu yang semula berpihak pada mereka kini undur diri dengan pengungkapan kebenarannya.
Kecurigaanpun muncul dengan tiba-tiba gara-gara ketidak stabilan sebuah perhatian, semakin lama semakin kuat mendera, dan akhirnya waktu yang dijanjikanpun datang, semula sang suami tidak mau mengakui tuduhan Prameswari, sebab dia sangat mencintainya, Prameswari hanya bertanya: ”Dimana sebagian uang gajimu?” Padahal Prameswari hanya sekedar bertanya saja sebab gajinya sendiripun jauh lebih banyak dari sang suami, dan tidaklah begitu penting pemberian suaminya.
Mulailah datang sebuah malapetaka, saling tuding-menuding, menyalahkan satu sama lain, yang lebih tidak masuk akal lagi jelas-lelas terbukti bersalah masih saja merasa tidak bersalah.
Setelah adanya kejadian tersebut kepercayaan yang semula penuh kini lambat laun mulai berkurang, jiwa intelegent Prameswari mulai bekerja ekstra, apapun yang dilakukan sang suami mulai dari mengikat tali sepatu sampai sarapan pagi tak luput dari pantauannya.
Bahkan abjad-abjad yang dipilih sang suami dalam mengetik pesan singkat dalam ponsel-pun begitu mudah dan cepat dapat diketahuinya, sampai pada suatu ketika ada berita: ”Anakmu sakit mas, kapan bisa pulang?”
Jantung Prameswari yang semula berdetak pelan mendadak tak beraturan akibat membaca tulisan dalam kotak masuk ponsel suaminya yang kebetulan tertinggal dirumah. Dia bertanya dalam hati: Mungkinkah ini salah kirim? Sebaiknya aku tanyakan pada si pengirim!
Sejurus kemudian lemas sudah tubuhnya mendengar suara wanita jauh di seberang mengaku sebagai istri dari suaminya, seakan-akan tulang-tulang didalam tubuhnya hilang entah kemana, persendian terasa nyeri dan lunglai ibarat layang-layang diguyur hujan lebat. Yang ada dalam benaknya hanya anak-anaknya! Apa yang harus dikatakan kepada meraka bahwa ayah baru mereka sebenarnya ayah orang lain, dan kepada orang tua, saudara, juga kepada orang-orang, jawaban apa yang akan dilontarkan jika mereka bertanya: ”Dimana suamimu yang baru itu?” Maka Prameswari pasti akan menjawab dengan berat hati: ”Suamiku pergi menemui isterinya”.
Bosan, dan terasa sangat membosankan hidup penuh dengan masalah, tapi dibalik kebosanan tersebut justru ia semakin matang dalam menentukan sikap, mantap terhadap apapun yang akan dilakukannya. Kini Prameswari tidak lagi mudah percaya dengan kata-kata manis dari mulut laki-laki, ia begitu muak dengan segala kebohongan, bertahun-tahun kembali ia hidup menjanda, sendiri dalam sunyi, menjadi “single-parent” bagi anak-anaknya, segala kebutuhan hidup ia tanggung sendiri, melupakan keindahan-keindahan selama hidup bersuami.
Dalam kesendirian inilah mulai ia belajar tentang rasa, begitu pentingnya sebuah rasa menjadikan ia semakin halus, terprogram, dan tertata kembali sebagaimana manusia yang sadar dari kealpaan, ia kini menjadi santun, rendah hati dan dermawan. Menganggap bahwa kehidupan tanpa ada masalah pasti terasa hambar. Saat hatinya mulai stabil, maka pikiranpun mulai terbuka untuk kembali menatap masa depan yang lebih cerah.
Suatu malam Prameswari bermimpi didatangi seorang pria berpakaian compang-camping layaknya pengemis, ia merasa iba melihatnya, lantas diberinya pengemis tersebut gelang emas miliknya, namun pengemis tersebut justru menolaknya sambil mengeluarkan gelang emas serupa yang jumlahnya lebih banyak dari Prameswari, ia bingung dan malu, apa yang harus ia lakukan? Pengemis itu berkata: ”Andai kata aku mau mempergunakan ini tentu aku tak jadi pengemis, ini hanyalah tipuan saja”. Lalu ia membuang semua perhiasan tersebut kedalam aliran sungai yang deras. Prameswari bertanya: ”Mengapa tidak engkau berikan saja kepada keluargamu dirumah, mengapa justru membuangnya?” si pengemis menjawab: ”Kamu belum tahu masalah ini”.
Setelah kejadian mimpi tersebut Prameswari sadar bahwa kemewahan dunia adalah semu belaka jika tak dimanfaatkan dengan baik, semakin ia ingat mimpi itu semakin ia penasaran, siapa sebenarnya pengemis tersebut.
Masih dalam suasana hati yang sepi Prameswari menjalani hidup tanpa kehadiran seorang suami, meskipun berdatangan pria-pria yang beraneka ragam karakter namun tak satupun sanggup menaklukkan hatinya, bahkan ada yang mati-matian dengan berbagai cara agar hati Prameswari takluk namun ia masih tegar dengan pendiriannya. Begitu pula sang mantan suami tak ketinggalan ambil bagian dalam turnamen tersebut, apalagi dia yang sudah jelas pernah merasakan belaian kasih-sayang Prameswari, namun kembali Prameswari tak bergeming! Lantas siapakah lelaki idaman hidupnya? Pertanyaan seperti ini pula sering terdengar dari keluarga maupun teman-temannya.
Malam itu semakin dingin yang membuat Prameswari tak kuat menahan rasa kantuk, dikamar sempit inilah kembali ia bermimpi bertemu dengan pengemis yang dulu, semakin lama berbincang-bincang ia semakin tahu bahwa perkataan si pengemis membuatnya damai, tenteram dan merasa terlindungi. Bahkan setiap menjelang tidur ia berharap sekali bertemu dengan pengemis miskin papa itu tanpa merasa berat hati, pernah terlintas dalam hati: Inilah kiranya lelaki yang aku idam-idamkan, meskipun miskin, kemiskinannya sebatas miskin di badan tapi kaya raya di hati.
Mungkin Prameswari merasa kasihan kepadanya, mungkin juga ia merasa jatuh hati, kita tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya, yang kita tahu hanya kini Prameswari bahagia bersama mimpi-mimpinya. Semoga mimpi-mimpinya dapatlah menjadi kenyataan. [BERSAMBUNG]