TRUE LOVE OF BIMA

Sepi, bisu…

Rembulan yang cantik merayap pelan, bergelayut tangkai langit, menampakkan kecantikannya pada pemuda yang menunggunya dari lima jam yang lalu di teras rumah bambunya. Pemuda kampung itu sangatlah miskin, rumahnya dari bambu, beratapkan ijuk ukuran empat kali enam persegi, tanpa teman dan keramaian, menyendiri ber-uzlah ditepian kehidupan yang bising. Sorot matanya sangat tajam menatap sang rembulan oleh sebab teringat mimpi-mimpi yang setiap malam ia alami. Tak terasa matanya pedih, dan semakin pedih…meneteslah air matanya untuk yang pertama kali dimalam ini. Semakin pilu ia menangis hingga tak terasa bunyi lonceng di kejauhan berhenti pada hitungan yang ke tiga kali.

Bermandikan cahaya rembulan adalah salah satu kegemarannya, yang menyebabkan ia tetap terpaku duduk sendiri, sembari malu-malu ia mengungkapkan isi hatinya yang semakin terlena. Oh…betapa ia sedang jatuh cinta kini.Sesekali air matanya ia seka, menggelengkan kepalanya berat, mengartikan bahwa ketidak mungkinan ia hidup bersama kekasihnya sebab jarak yang terlalu jauh, padahal…mereka telah sama-sama jatuh cinta.

Sepi, bisu, dan hening…

Hanya terdengar isak tangis yang semakin lama semakin pudar, hingga tak terdengar lagi, tanpa disadari ia pun terlelap.

Jiwanya terbang terseret angan, membiarkan jasadnya basah oleh embun malam, menggigil…bungkam tiada kata lagi.

”Anak muda,” sesosok mahluk berjubah putih tiba-tiba muncul dihadapan.

”Sudah siapkah engkau sekarang menghadap Baginda Raja?” tanyanya kemudian.

”Ach kau lagi,” jawab si pemuda.

”Aku sudah siap dari kemarin, lakukanlah segera!”

”Tetapi,mengapa kau menangis?” Tanya mahluk itu lagi.

”Aku menangis karena hidupku, dan aku menangis karena matiku.” jawab pemuda itu sambil mmenundukkan kepalanya, mereka berhadap-hadapan, hanya berjarak satu jengkal saja.

”Apa maksudmu?” pertanyaan itu sempat membuatnya berfikir dalam.

”Untuk hidupku, aku menangis karena tak akan pernah lagi menemani rembulanku, dia sendiri, setiap malam kami bercerita tentang diri masing-masing, yach…kelembutan sikapnya mampu membuatku menangis, menangisi hidupku yang tak mampu menemani selama-lamanya, karena aku harus pergi, dan pastilah aku pergi untuk selamanya.” Kenangnya tanpa mempedulikan pada siapa ia berhadapan.

”Ya, begitulah anak muda, lantas mengapa kau menangis karena matimu?”

”Untuk matiku, aku menangis karena aku harus bertemu dengan Baginda Suci, sedangkan aku masih kotor, aku belum pantas bertemu dengan-Nya, andai saja ada air yang mampu membersihkan kotoranku…”

Kata-katanya terhenti, terbawa air mata yang jatuh ke bumi, mempengaruhi jasadnya hingga…

Isak tangis malam itu terdengar lagi, terlihat jasad pemuda itu semakin dalam, hanyut bersama mimpinya, kepalanya tertunduk, air matanya menetes membasahi sarung kumalnya.

”Benarkah apa yang kau ucapkan itu anak muda?” kembali ia dihujani pertanyaan untuk yang kesekian kalinya. ”Ya,aku telah siap meninggalkan segalanya, bahkan jiwa ragaku aku pertaruhkan untuk kelangsungan hidup yang hakiki, yang selalu aku impikan. Bukan ku menyesal telah dilahirkan kedunia, tapi ku menyesal jika aku mati tanpa membawa bekal yang cukup, sebagai manusia, sebagai mahluk yang diciptakan Tuhan, sebagai manusia seutuhnya.

”Benarkah apa yang kau ucapkan itu anak muda?” kembali ia dihujani pertanyaan untuk yang kesekian kalinya. ”Ya, aku telah siap meninggalkan segalanya, bahkan jiwa ragaku aku pertaruhkan demi kelangsungan hidup yang hakiki, yang selalu aku impikan. Bukan kumenyesal telah dilahirkan kedunia, tapi kumenyesal jika aku mati tanpa membawa bekal yang cukup, sebagai manusia, sebagai mahluk yang diciptakan Tuhan, sebagai manusia seutuhnya.”

”Jika memang demikian niatmu, maka masuklah kedalam sungai itu!” perintah sosok berjubah sambil mengacungkan jarinya kearah samudera. Seketika ia berniat terjun kedasar samudera, namun belum sempat ia menyentuh air, dihadapan telah berdiri dua raksasa tinggi besar siap menyambut kedatangannya dengan taring dan senjata masing-masing.

Malam berjalan pelan, rembulan mulai merambat naik dengan bercucuran air mata melihat jiwa yang sama sekali belum pernah merasakan buah surga maya dunia itu pergi meninggalkannya, tangisan menggema memecah dinding langit, yang penduduknya saling menggenggam tangan dan berdoa mengiringi kepergiannya, mereka berkata: ”Jangan Bima, kau tidak kuat, sudah banyak yang mencobanya tapi tiada satupun yang berhasil pulang dengan selamat, semoga kau berhasil saudaraku…”

Bima, begitu mereka memanggilnya, tanpa mempedulikan teriakan orang-orang yang melarangnya, ia bagai seorang yang telah mempunyai tujuan pasti, tujuan yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.

Derit pohon bambu yang saling bergesekan tak mampu mengembalikan kesadaran anak muda yang sedari tadi tertunduk semakin dalam, begitu pula kemolekan sang rembulan yang menggairahkan, dan gigitan nyamuk yang semakin ganas menghisap darah anak muda itu tak mampu membangunkan tidurnya.

Tiada lagi tetesan air mata, tiada lagi isakan tangis, yang ada hanya rasa semangat yang bergelora menghadapi pertempuran dengan dua raksasa dipermukaan samudera untuk dibunuhnya satu persatu.Ia harus berhasil, dan kembali menemui rembulan-nya yang kini semakin condong ke barat membawa harapan besar terhadapnya.”Doakan aku wahai rembulanku, agar kita dapat bertemu lagi,” bisiknya dalam hati disela-sela pertarungan melawan dua raksasa penjaga samudera.Satu persatu mati, dan…”Selesai sudah,” pikirnya.Namun tiba-tiba datang ular besar berwarna hijau tua menyerang dari arah belakang, menggigit paha kirinya.

Berkelit, menghantam,mencekik…Berbagai cara Bima lakukan, namun tidaklah mudah mengalahkan ular tersebut, tapi ia harus dapat mengalahkannya.

Yach, darah segar keluar dari berbagai penjuru akibat tusukan kuku pancanaka yang dihujamkan Bima kearah tubuh ular tersebut. Menggelepar, meraung, dan pada akhirnya ular itupun mati. Ternyata ular hanyalah penjelmaan nafsunya saja, maka saat ular itu mati, Bima-pun ikut pula mati.

Akibatnya Bima linglung, bingung tak tahu arah dan tujuan, semakin lama berfikir semakin ia tak mengerti bahwa sebenarnya ia telah berada di lingkungan baru, alam yang teramat asing baginya, alam yang ia merasa sendiri tanpa teman, saudara dan kerabat.

Sayup-sayup terdengar suara memanggil-manggil, ”Bima…Bima…Bima…” suar itu semakin jelas mendekat dan tampaklah sosok bertubuh kecil menyerupai bentuknya, yang membuat ia semakin penasaran. ”Siapa kamu?” Tanya Bima setelah ia berhadapan dengan sosok yang mirip dengannya tersebut. ”Aku adalah kamu, maka masuklah kedalam tubuhku.”

”Bagaimana aku bisa masuk sedangkan tubuhmu lebih kecil dariku?”

”Masuklah melalui telinga kiriku, ingatlah bahwa kau telah mati, hidup dan mati tak ada bedanya, jasadmu halus berupa suksma.”

Maka dengan bersemedi sebentar, secepat kilat Bima dapat masuk kedalam tubuh tersebut. Didalam ia semakin bingung, linglung tak tahu kiblat, namun segera dapat diatasinya. Dilingkungan yang baru lagi inilah Bima dapat melihat alam yang indah permai bagai surga, mulia dan wangi baunya.Ia bersimpuh pasrah mendengarkan wejangan-wejangan tentang berbagai hal mengenai kesempurnaan hidup, ia diberitahu tentang rahasia-rahasia hidup, dan berbagai ilmu pengetahuan yang sama sekali belum pernah ia ketahui sebelumnya.Ia merasa nyaman, tenteram, dan damai bersama Kekasihnya Yang Suci, yang mencintai dan menyayangi, berjalan-jalan di taman dengan aneka buah-buahan yang ranum, pohon-pohon yang rindang dan subur yang dibawahnya mengalir sungai yang bening dan menyegarkan, menemukan jawaban sebelum ia bertanya, menjawab semua teka-teki yang dulu pernah di pertanyakan, bersatu…manunggal dengan kedamaian abadi, ia telah menemukan siapa dirinya, dan kemana tujuan akhir hidupnya, sehingga ia berniat tidak ingin kembali kedunia, ia merasa puas dan ingin menetap disana. Begitulah manusia, jika telah merasa nyaman maka ia akan lupa dengan tanggung jawabnya. Bima lupa kepada hidupnya, kepada rembulan yang menunggunya, kepada pekerjaannya, kepada hari-harinya yang masih panjang dengan tugas-tugas yang tentu akan lebih berat lagi, tiada mungkin ia di ijinkan untuk tetap tinggal.

”Bima…” tiba-tiba ada suara yang membuatnya terkejut. ”Kini, semuanya telah kau dapatkan, apa-apa yang kau pinta telah ku penuhi karena empat langkah perjalanan telah kau lalui dengan sempurna, maka kembalilah kedalam jasadmu, laksanakan dan amalkan apa-apa yang telah kau ketahui, belum saatnya kau disini meskipun kau berharap sekali tetap disini, karena tugas berat telah menantimu disana, dan temuilah rembulanmu sebelum ia pergi meninggalkanmu.

Suara itu lalu menghilang, berganti suara-suara binatang malam dan derit pohon bambu. Berangsur-angsur semakin jelas terdengar, hawa dingin terasa mengusik kulitnya yang mulai berembun. Anak muda itu telah terjaga dari tidurnya. Menggeliat…tubuhnya terasa pegal-pegal seperti baru saja menempuh perjalanan jauh. Wajahnya terlihat tampak lebih cerah dari sebelumnya, secerah rembulan yang masih setia menunggunya diatas atap rumah bambunya. Ia lantas beranjak dan masuk kedalam rumah untuk bersegera menunaikan sholat subuh seperti malam-malam sebelumnya.

Sukorejo,13 juli 2009

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.