ANGSA PUTIH

Kulihat Angsa putih itu mengepak-ngepakkan sayapnya, sambil menari, menggoyang kan ekornya kekanan dan kekiri dalam balutan kabut tipis. Aku berjalan pelan sambil sesekali mencuri pandang, karena takut ketahuan indera tatapnya meski ia tahu aku menikmatinya. Itulah Angsa putih ku, meskipun aku goda beberapa kali ia tetap menghargaiku, kadang sesekali marah apabila secara iseng kusentuh ekornya, itu wajar saja karena aku tahu marah baginya hanyalah sebagai formalitas belaka,Aku mendekat ke arahnya, kutatap dari ujung kepala sampai ujung kaki, dalam hatiku berkata ; “Aku melihat Tyessa ada didalam tubuhnya”, dan jiwaku mengagumi dibawah payung pesonanya, aku memujanya seperti aku pernah memuja seseorang 12 tahun yang lalu. Mungkin sekarang dia hadir kembali bersama jiwaku yang telah lama terkubur bersama jasad seseorang yang kucintai, jiwa yang senyap akibat trauma keabadian. Aku lunglai saat itu, saat-saat dimana ruhnya dibawa terbang oleh sayap-sayap kematian, dan tidur tanpa keterjagaan.
Hatiku pilu, jiwaku berontak seakan-akan ingin sekali menyayat kulit tubuhku dengan pisau amarah supaya aku dapat segera menyusulnya, tapi aku ingat kalimat terakhir sebelum ia tersenyum dalam kesedihan yang kekal.

“Kamu jangan sedih, karena aku pasti akan kembali…”
Aku memegang erat kedua lengannya sambil sesekali menyeka darah yang mengucur deras dari ubun-ubunnya. sederas air mataku, sederas lalu-lalang laju kendaraan perkotaan. Kurasakan sekali pada pahaku sepertinya ada benda keras menusuk celana jinsku, kuangkat jasad kekasihku yang masih hangat, dan ternyata tulang belakangnya remuk gara-gara injakan kaki-kaki karet sang raja jalanan, beruntung sekali aku mendapati nafas terakhirnya, seketika itu pula dunia seakan-akan gelap gulita, berputar-putar layaknya labirin, aku lemas dan akhirnya…entahlah.
Sayup-sayup kudengar suara orang-orang memanggil namaku, kucoba membuka mataku pelan-pelan,samar,dan sepertinya aku mengenal orang-orang itu.
“Ayah,Ibu,Om…dimana aku?” tanyaku gemetar.
“Syukurlah nak, kamu sudah siuman…” jawab Ibuku sambil kulihat orang-orang dengan serentak mengelus dada dan mengucap syukur.
“Apa yang terjadi padaku Bu?” tanyaku kemudian.
” Kamu dua hari koma nak, kami sangat mengkhawatirkanmu.dan sekarang kami bahagia kamu sudah sadarkan diri.” Kulihat ibuku menangis sambil memeluk tubuhku yang lemah.
Aku benar-benar tak tahu apa yang terjadi padaku, yang aku tahu hanyalah bau obat-obatan, cat dinding warna putih,orang-orang lalu-lalang yang berpakaian serba putih, dan kerumunan orang-orang yang kukenal, yaitu keluargaku.
Sepertinya mereka sangat mengkhawatirkanku. Kucoba untuk mengangkat tubuhku.tapi berat sekali rasanya, tanganku lemas tak berdaya, dan tubuhku letih seperti baru saja menempuh perjalanan jauh.”Kamu harus istirahat dulu Yudha.dan jangan bergerak terlalu berat.soalnyakondisi kesehatanmu belum pulih betui anakku…” suara Ibu mengurungkan niatku untuk bangkit. Sepertinya aku baru saja lahir ke dunia untuk yang kedua kalinya.tubuhku lemah tak berdaya laksana bayi, yang aku ingat hanyalah Ibu,ayah,dan orang-orang terdekat, aku merasakan bahwa telah kehilangan satu orang yang sangat aku sayangi.tapi aku tak tahu.otakku tak bias memutar balik kehidupanku yang dulu.semuanya hilang,dan musnah ditelan tekanan dan trauma, yang aku tahu sekarang hanya sisa bercak darah yang menempel dikuku ibu jari dan telunjuk tanganku, dalam hatiku bertanya: Darah apa ini, mengapa ada padaku? namun aku tak menemukan jawaban, sampai akhirnya aku tertidur pulas setelah meminum obat penenang yang di anjurkan Dokter.
Aku berjalan menyusuri lembah-lembah, perbukitan, hutan, sungai,dan apapun yang aku mau. Kadang-kadang aku terbang tinggi bersama elang,menembus awan pekat sambil sesekali pandanganku menangkap Angsa-angsa putih yang berenang disungai Kehidupan.Jiwaku melayang tak tentu arah,anganku terbang bersama emosiku.Aku terjatuh.tersungkur dalam khayal.Mengutuki nasibku, menyesali sikap-sikapku yang buruk. Kulihat darahku mengalir keluar dari pori-pori kulitku. Aku lemas tak punya tenaga. Sejurus kemudian aku pingsan. Tak tahu apakah jiwaku masih berada didalam tubuhku ataukah telah pergi bersama elang,
Kurasakan belaian lembut tangan suci, kupandangi sekeliling tapi tak kudapati siapapun, hanyalah sosok Angsa putih yang menangis disampingku, seraut wajah sayu dan membisu, keteduhan yang telah gersang, keranuman yang telah hambardan bergetar, dingin, menyusup pori-pori kehidupan.
“Mengapa kamu menangis wahai Angsa putih?” tanyaku padanya.
Tapi sepatah katapun tak keluar dari paruhnya, hanya hening dan ham yang kudengar, hanya angin dan gemuruh yang kulihat. Bahkan air matanya semakin deras membasahi pipinya yang putih bersih. Samar-samar kulihat wajahnya begitu akrab denganku, ya, akrab sekali dihatiku. Tak kuasa menahan rasa ke ingin tahuan, Kutanya ia untuk yang ke duakali.
“Apakah aku mengenalmu,dan apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyaku kemudian. Angsa putih itu hanya menundukkan kepalanya dan tak berkata apapun. Semakin menundukkan kepala semakin jelas pula kulihat luka menganga di ubun-ubunnya. Dalam hatiku berkata: Sepertinya aku pernah melihat luka seperti itu, tapi…
Lamunanku buyar tatkala ia menghentikan belaianya, berdiri, dan membalikkan tubuhnya, sebelum akhirnya ia terbang keangkasa raya aku sempat melihat tulang punggungnya yang remuk dan menjulur ke!uar,spontan mulutku gemetar berusaha menemukan sebuah kata di hati. Sebuah nama yang akrab,dekat,dan melekat dihati sanubari,didalam jiwaku yang biru, terukir didalam perasaanku yang paling dalam.
“Tyessa, Tyessa…,” aku memanggil nama itu, berulangkali aku memanggilnya tapi ia telah jauh pergi meninggalkanku dalam kesendirian. Aku sedih dalam penyesalan dan rasa bersalah. Dengan sekuat tenaga aku berusaha bangkit, berjalan tertatih-tatih menapaki pamatang-pematang kehidupan.
Menelusuri lembah-lembah usia yang renta, mendekati kelahiranku kembali kealam Barzah. Aku terus memanggil nama itu sampai kurasakan tubuhku bergoyang-goyang, kurasakan cengkeraman kuat di bahuku dan teryata dua tangan Ayahku mencoba berusaha membangunkan tidurku. Aku sadar.tapi mulutku masih mengucap nama yang sepertinya tak asing bagi orang-orang yang mengerumuniku.Rasa ingin tahuku memuncak saat mereka saling berpelukan satu sama lain setelah aku berhenti memanggil-manggil nama Tyessa.
“Siapakah Tyessa itu Ibu? ” Aku bertanya pada Ibuku yang kebetuian paling dekat denganku. Aku semakin heran dengan begitu eratnya Ibuku memelukku.tak satupun yang berani menjawab pertanyaanku, begitu pula Ibu, Ayah, dan Dokter yang menangani jenazah Tyessa. Semuanya diam, hanya isak tangis yang kudengar dan derit kursi roda pasien Rumah Sakit yang datang mendekat dan bertanya:
“Sudah sadarkah anak Ibu?” tanya pasien itu.
Ibuku hanya menoleh dan berusaha tersenyum meski kulihat sangat dipaksakan. Aku semakin tak mengerti apa yang terjadi padaku. Siapakah Tyessa itu?ada apa dengan mimpiku? berbagai pertanyaan berkecamuk saling berebutan meminta jawaban.
Berulang kali Tyessa hadir dalam mimpi-mimpiku. Dalam hari-hariku,kurasakan sekali keakraban dan kelembutan pada tatapan matanya.ada panorama yang indah dalam bola matanya, yang memberikan kebahagiaan abadi di setiap ceruk dan relung hatiku yang paling dalam. Aku yakin dia adalah kekasih jiwaku,perempuan pujaan pada kehidupanku yang dulu,perempuan yang telah member’] semangat hidupku kembali.
Berbagai siasat kulakukan untuk mengetahui siapa itu Tyessa,karena Dokter bilang bahwa aku mengalami shok dan gangguan syaraf ringan, berkat bantuan orang-orang terdekatku lambat laun daya ingatkupun mulai berfungsi,seperti kata kakekku: Setiap penyakit itu hanya bisa disembuhkan atas keyakinan diri, doa, dan bantuan orang-orang terdekat. Apalagi penyakitku adalah menyangkut mental dan syaraf.
Aku berhasil menemukan bukti-bukti kuat keberadaan Tyessa, seperti:Surat cintanya.T-s/rt pemberiannya pada ulang tahunku, buku D/a/yku, dan berbagai pernak-pernik cindera mata darinya. Itu semua kulakukan guna memulihkan memori-memori yang pernah kualami. Akhirnya aku menemukan jiwaku kembali.Aku adalah kekasihnya,dan dia adalah kekasihku abadi.
Tyessa belum mati.dia akan tetap hidup bersama cintaku.Aku yakin bahwa dia akan kembali, menemui jiwaku yang sendiri dengan kerinduan,bersama kabut malam.sepoi angin pagi.di setiap helaan nafas dan seiring detak jantungku.dan aku tahu dimana dia sekarang,yaitu di hatiku. Pusara hanyalah tempat singgah sementara sebelum ruh-ruh di bangkitkan kembali pada Penghisaban. Dan kami akan bangkit kembali bergandengan tangan menunggu panggilan hidup yang kekal.
Hari-hari kulalui dengan aktifitasku,kucoba menyibukkan diri apapun yang kulakukan sekedar untuk melupakannya,karena mengingatnya hanyalah membuatku sedih saja.
Meski kutahu hatiku masih mencintainya dan sulit sekali melupakannya,tapi kusimpan dalam-dalam perasaan itu di dasar samudera jiwaku. Kubenamkan rasa itu.kuistirahatkan khayalan itu sampai sekarang,12 tahun sudah rasa itu mengisi hatiku.
Seperti yang pernah dia katakan pada saat-saat terakhirnya,bahwa dia pasti akan kembali,diapun kembali seperti janjinya dulu,sosok jiwa abadi telah kembali di dalam perasaanku, didalam hatiku, aku kembali merasakan kebahagiaan yangdulu kandas, karena takdir yang selalu pasti,yang takkan bisa kita hindari meski bersembunyi ke dalam lubang semut sekalipun.
Kubawa kembali lamunanku pada kesadaran setelah Angsa putih itu pergi.pergi jauh mencari biji-bijian yang jatuh dari pohon kehidupan.meninggalkan aku dalam rintik hujan pangharapan, Sekarang, aku sadar bahwa Tyessa telah kembali dengan ujud yang berbeda. Aku bersyukur pada Tuhan yang telah menumbuhkan kembali perasaan yang sama padaku seperti dahulu.Tapi aku sadar,bahwa aku tidak harus memilikinya, meski kutahu ia adalah jiwa yang lahir kembali bersama cinta abadi seorang kekasih.Tyessa adalah sosok gadis keturunan Tiong-Hoa kekasihku dulu yang telah pergi untuk selama-lamanya akibat terjangan mobil dengan kecepatan tinggi, menghantam sebuah kendaraan
yang akhirnya terpental ke badan jalan, padahal dari arah berlawanan sesosok Malaikat maut bertubuh tinggi besar dengan kaki-kakinya yang kokoh telah siap menyambut tubuh yang tak berdaya itu.Jiwaku mengerang mengiringi kepergian Ruhnya.
Malam merambat pelan dengan sayap-sayap pekatnya.sesekali suara-suara burung malam mengisi keheningan di hatiku, sunyi.seakan-akan Ruh-ruh
angkuh sepakat mengakui keperkasaanya sehingga memilih untuk tetap berada
didalam kamar tubuhnya yang sombong.Jiwaku kosong menatap bintang-bintang
di angkasa raya, gemerlap bagai kunang-kunang di pekuburan nenek
movanqku.Seienak ku berdiri,menikmati sentuhan angin dan pelukan embun
malam.Aku sendiri,dibawah teras kehampaan hatiku, aku rindu pada kekasih,aku
rindu kemurahan Hati llahi.Dering ponsel membuyarkan anganku, mengembalikan kekusyukanlamunan atas rasa syukur pada Sang Pencipta, kulihat pada layar ponsel,aku
terperanjat bukan kepalang karena nama yang tertera adalah sosok gadispujaanku namun kututupi rasa kekagumanku padanya.Gadis lugu dan Orisinalberwajah Oriental, tidak jauh beda dengan Tyessa-ku, sebab ia adalah adikkandungnya semata wayang. Gadis mungil yang dulu sering ku goda,ku ejek saatdulu aku masih bersama kakaknya.tapi ku kagum pada kecerdasaan otaknya.danterutama pada kepiawaiannya merawat pesona tubuhnya,sehingga aku menjulukinya Angsa putih.
Aku melarang perasaanku sendiri untuk mencintainya, sebab,mencintainya sama juga menyakiti jiwa mendiang. Hatiku masih belum maumenerima cinta siapapun. Aku tak ingin membuat dia sengsara disana.Tapi,kadang-kadang aku merasakan perasaan yang sama apabila dekat denganTyas.parasaan akan kekaguman, simpati, dan hasrat seorang kekasih.
Seperti pada tahun-tahun yang lalu, disetiap tanggal dan bulan
kematiannya,Tyas selalu mengingatkanku untuk mendoakan mendiang, dan
sempat pula menanyakanku apakah aku sudah menemukan kembali kakaknya
atau belum.
“Atas nama cinta dan kasih sayangku kepada mas Yudha, kalau masYudha bersedia,aku rela menggantikannya.itupun kalau mas tak keberatan.akutahu mas begitu cinta dan sayang pada kakakku.tapi ketahuilah bahwasanyakakakku tak kan mungkin pernah kembali, biarlah jiwanya tenang disisiNya.kesetiaan bukan berarti harus menyiksa perasaan mas sendiri,aku tak tegamelihat mas terus-terusan begini,, kakakku pasti bahagia asal mas jugabahagia,dan aku sangat paham dengan perasaan mas,aku ikhlas melakukannya,aku rela menjalaninya, aku tahu sebenarnya mas Yudha juga diam-diam
menyukaiku.tapi mas takut mengutarakannya karena begitu kuatnya cinta mas
Yudha pada kakakku.”
Kata-kata Tyas belum mampu menggoyahkan keteguhanku, mungkinkarena aku yang begitu keras kepalanya, sehingga membuat kecewaperasaanya.Tapi.ia begitu sabar dalam penantian.jiwanya begitu tabah dalampengharapan.Sebenarnya dalam relung hatiku yang paling dalam, akupunmenyayanginya, tapi aku tak ingin merebut kebebasannya,merebut dunianya,biarlah kukubur dalam-dalam bersama penantianku yang semu.
Sekarang…,dunia begitu sunyi kurasa tanpa kehadiran seorang kekasih,
pergantian waktu begitu cepat, malam dan siang berkajaran saling mendahului
satu sama lain. Aku kalah, aku menyerah pada Alam.
Malam ini 12 tahun yang lalu adalah malam dimana Ruh sang kekasih di
panggil menghadap Yang Esa, aku gemetar mengingatnya, dan aku menyesal
dengan prinsipku bertahun-tahun lamanya.Aku sadar, bahwa kekasihku memang
tak mungkin kembali.Namun kini perasaaku tiba-tiba kenbali seolah-olah jiwaku
hidup kembali seperti dulu,bersama jiwanya yang suci, bersama jiwa yang diam-
diam kukagumi,yang rela menjalani demi cinta abadi seorang kakak.Tyas,maafkan
aku yang telah beberapa kali membuat engkau kecewa, benar sekali apa yang
engkau ucapkan dulu,bahwa sebenarnya aku juga menyayangimu dan kagum
padamu seperti yang kurasakan waktu dulu.
Lama sekali kubiarkan deringan di ponselku, kubaca kalimat dilayar:”TYASMEMANGGIL…”
Aku tersenyum dan tiba-tiba aku teringat kata-kata terakhir dari Tyessa:
“Kamu jangan sedih, karena aku pasti akan kembali…”
Kuangkat ponselku kedekat telinga sambil pikiranku menerawang jauh menembus
gemerlap bintang-bintang, planet-planet ruang angkasa.melesat jauh masuk
kedalam ruang hampa udara sehingga nafasku terasa sesak.Telingaku sakit dan
aku baru sadar bahwa ternyata telah beberapa kali ponselku berbunyi:”HALO”
berulang-ulang yang semakin lama semakin keras!
“Eh iya, halo?!,..Tyas ya, apa kabar?” jawabku gugup.
“lya mas Yudha, kabarku baik-baik saja, mas sendiri apa kabarnya?”sahutnya ramah.
Aku diam sesaat,aku bingung harus berkata apa,di satu sisi aku bahagia.di
satu sisi aku takut kahilangan parasaanku yang mulai tumbuh kembali, aku takut
apabila Tyas menolak cintaku. Padahal, hanya pada dialah kupertaruhkan
segalanya,aku tak kuasa menghadapi moment ini.
“Halo ?!mas sakit ya?” tanya Tyas kemudian.
“Ah tidak kok,aku baik-baik saja Tyas, cuma aku sedikit capek saja,”
jawabku sekenanya. Padahal aku ingin sekali mengatakan bahwa aku sangat
mengharapkan kehadirannya disisiku. Dan aku ingin mengatakan padanya bahwa
aku rindu sekali menatap danau kesejukan di bola matanya seperti waktu-waktu
yang lalu.
“Syukurlah kalau begitu mas Yudha, aku hanya ingin mengatakan sesuatu
pada mas sel…”Kalimat Tyas seketika berhenti karena aku potong, aku larang ia
mengatakannya melalui telefon, sebab aku tahu seperti biasanya ia pasti akan
mengingatkanku untuk mendoakan kakaknya disaat tanggal dan bulan
kematiannya,dan juga pasti akan menanyakanku apakah sudah menemukan
kakaknya atau belum.Tapi kali ini aku ingin menjawab langsung dihadapannya
dengan jawaban: “Hampir”. Rencananya besok pagi-pagi sekali ia akan datang
menemuiku seperti apa yang dikatakan sebelum ia menutup telefonnya. Dan
sudah barang tentu akan kusambut kedatangannya dengan cintaku, dengan gelora
asmara yang lama tertimbun oleh longsoran-longsoran waktu.
Malam ini, gejolak-gejolak asmara jiwaku tak dapat kubendung,hatiku
meloncat kegirangan karena bahagia,detak jantungku berpacu keras mengalahkan
detak jarum jam dinding yang kurasa semakin lambat saja. Aku menerka-
nerka.membayangkan pertemuanku dengan gadis pujaanku, gadis Angsa putih
dengan sorot matanya yang teduh, paruh merah yang segar alami, lekuk tubuh
yang pasti semakin sempurna, dan pada akhirnya aku terlelap dalam angan dan
khayalan bunga-bunga asmara.
Alarm pada ponselku mena.rik-narik mengajak mimpi kembali ke alam
sadarku pada pukul 5 pagi tepat seperti apa yang disepakatinya tadi malam. Aku
segera bangkit meninggalkan khayalan-khayalanku pada sang pujaan, dan
menyegarkan pikiranku dengan guyuran air kehidupan, merapikan diri bersiap
menyambut si Angsa putih impian dengan rasa penuh semangat dan
opf/m/s^Kubuka jendela hatiku lebar-lebar agar angin kebahagiaan dapat masuk
kedalam ruang jiwaku, kulihat lagi pada jam dinding.
“Ah, masih pagi…” pikirku dalam hati.Kucoba berkaca sebentar, melihat diri yang lain sambil kutanya:”Apa kabarkawan, sudahkah kamu sanggup menerima apapun yang terjadi?” Akumenggelengkan kepala.dan diapun ikut menggelengkan kepala keheranan.      Setiap aku tanya beberapakali justru akusemakin bingung menjawabnya, sebab, ia juga
menanyakan padaku seperti apa yang ku ucapkan. Belum puas rasanya aku asyik
tanya jawab dengan diriku, samar-samar telingaku menangkap suara yang
sepertinya pernah ku dengar. Ya,itu Tyas! pikirku.
Aku berlari kearah daun pintu rumahku, segera kubuka lebar-lebar seperti
hatiku. Aku mendapati sosok yang benar-benar aku kenal.
“Silakan masuk Tyas, Om,…” sambutku pada mereka.
Aku pikir Tyas akan datang sendiri seperti tahun-tahun lalu seperti yang
kukhayalkan tadi malam dengan raut pangharapan yang ceria.Tapi,sekarang dia
datang dengan wajah muram dan luhglai. Aku heran, tak kutemukan paruh merah
yang segar lagi di bibirnya, hanya genangan air waduk kelopak matanya yang
meluber kesegala arah bersama henyakan pantatnya di sofa ruang tamuku.Aku
berfikir dalam hati, siapakah lelakr itu? dan bayi yang digendongnya itu
anaknyakah? sedangkan yang kutahu dia tidak mempunyai paman atau kakak
laki-laki. Aku bingung dibuatnya, sehingga aku memberanikan diri untuk
menanyakannya.
“Sebelumnya aku minta maaf Tyas, bolehkah aku tahu dulu kamu ini datang
dengan siapa?” tanyaku pada Tyas sambil mataku mengisyaratkan bahwa yang
kumaksud adalah lelaki di sebelahnya itu.
“Maaf mas Yudha, sebenarnya ini yang mau kusampaikan pada mas,ini
adalah…”Tyas sedikit terkejut dan berhenti bicara karena lelaki itu tiba-tiba berdiri
dan membungkukkan badannya kearahku.
“Kenalkan, saya Guntur suami Tyas,” lelaki itu seketika mengulurkan tangannya kearahku.
Tubuhku gemetar tak dapat ku kuasai, aliran darahku seakan -akan
berhenti seketika, dan benar-benar Tyas datang membawa guntur yang
menyambar-nyambar anganku, sehingga hangus terbakar. Jiwaku padam,dan
khayalanku musnah ditelan sorot mata lelaki itu.Aku linglung.jiwaku pergi ke antah-
berantah,hatiku menangis pilu layaknya anak kecil yang kehilangan mainan, aku
menatap lemas uluran tangannya sambil kusambut dengan uluran tanganku pula.
“Yudha.” jawabku pasrah.
Aku sudah tak punya kata-kata lagi,hanya guratan-guratan penyesalan
diwajahku saja yang jadi jamuan tamu didepanku.Tapi,paling tidak aku harus
berusaha mengeluarkan isi hatiku pada orang yang ku tuju. Supaya aku
lega,supaya Angsa putih impianku itu tahu kalau aku pada dasarnya mencintainya
Dengan sekuat tenagadan sisa-sisa kalimat yang berhamburan, kucoba kucari dan
kususun kembali meski aku kesulitan mendapatkan dimana letak kalimat itu
sekarang. Kulihat air mata Tyas mengalir kepipi tanpa tertahankan, dan sepertinya
tak tega melihat perubahan raut wajahku yang drastis.
“Jadi… kamu, sudah. ..menikah ya?” tanyaku terbata-bata.
“Syukurlah kalau begitu Tyas, itu…artinya kamu telah menemukan
kebahagiaanmu,aku…turut bahagia meski aku kecewa.Kalau tahu begini.alangkah
baiknya mungkin kamu jangan datang saja sekalian,karena kau tahu bahwa ini
sangat menyakitkan, karena sebenarnya…aku menyayangimu dan kagum
padamu, tapi aku tutup-tutupi karena aku belum sadar bahwa sesungguhnya
kakakmu itu tak kan mungkin pernah kembali.Sekarang aku sadar bahwa
penantianku itu sia-sia belaka. Biarlah kematiannya membawa cinta abadinya.Tapi
yang lebih utama ijinkan aku mengatakan sesuatu padamu agar aku tenang
meskipun terasa aneh menurutku. Tyas, aku mencintaimu, aku bersedia
menerimamu apa adanya. Hanya itulah ungkapan terdalam dilubuk hatiku,dan
sekarang aku lega, aku bahagia karena kaupun bahagia.” Terasa sekali aku
memaksakan ucapanku.
“Belum mas, aku belum bahagia.” jawaban Tyas seakan-akan
menghentikan hembusan angin yang keiuar masuk ventilasi rumahku, aku sontak
terperanjat, kutatap dalam-dalam bola matanya, ku alihkan pada lelaki yang duduk
di sebelahnya, tenang dan berwibawa.
“Apa maksudmu belum? bukankah dia itu…” kuhentikan kata-kataku
karena kulihatjari Tyas mengisyaratkan untuk diam.
“Om Guntur.saya mohon tolong jelaskan yang sesungguhnya sebelum
keadaan semakin tak karuan,” pinta Tyas pada lelaki itu.
“Begini dik Yudha, saya sudah faham semuanya, karena Tyas telah
menceritakan semuanya pada saya, ini hanyalah permainan dan sandiwara
belaka,dan sayalah sutradaranya.mengingat perasaanya yang hampir mendekati
keputus-asaan, sebenarnya Tyas juga cinta dan sayang pada dik Yudha.Tapi
sebaaai wanita.kuranglah etis apabila mengutarakannya isi hatinya sebelum orang yang dicintai mengucapkan lebih dahulu. Sebenarnya saya adalah pamannya, nenek Tyas mengangkat saya sebagai anak angkatnya waktu saya umur 5 tahun
dan saya memang tidak ada pertalian darah dari keluarga Tyas,saya kecil dirawat
neneknya dan sekarang saya menetap di Kuala Lumpur mengikuti istri saya, bayi
itu adalah satu-satunya anak saya. Dan sekarang, tugas saya telah
selesai.bukankah begitu Tyas?,” lelaki itu berhanti bicara sejenak sambil
memalingkan wajahnya pada Tyas yang lantas dibalasnya dengan senyum dan
anggukan kepala.
“Sekarang, selanjutnya tersera’h kalian, saya mohon pamit karena ada
urusan penting lainnya.” lelaki itu beranjak dari tempat duduknya sambil menjabat
tanganku erat. Sebelum akhirnya lelaki itu pergi, dengan senyum lepas Tyas
memberikan bayi yang sedari tadi di gendongnya kepada lelaki yang ternyata
adalah pamannya sendiri.
Aku melepaskan kepergian lelaki itu tanpa sanggup berbasa-basi lagi sebab
aku belum bisa sepenuhnya mengembalikan jiwaku kembali. Pikiranku kacau
sekali, serasa bagaikan dadu monopoli yang dilempar-lemparkan oleh anak kecil,
namun selang beberapa saat kemudian akupun sadar, sadar bahwaTyas
menciptakan ini semua hanyalah untuk memastikan isi hatiku padanya.
Kupandangi sosok gadis didepanku yang tengah tersenyum tersipu malu.
Kubaca pikirannya dan tak kudapati kebohongan lagi sedikitpun, yang ada
hanyalah bayangan Angsa putih yang selalu hadir dalam mimpi-mimpiku. Kamu
hebat Tyas, aku kalah dan aku makin kagum saja padamu.
“Apa yang baru saja kamu lakukan terhadapku itu merupakan hal yang
paling bodoh yang pernah kulihat, sebab kamu hampir membuatku gila, dan
menurutku kamu sekarang makin cerdas saja Tyas, karena aku tidak pernah
menduganya sama sekali, aku tidak menyangka bahwasanya ternyata kamu amat
tega terhadap perasaanku.” Aku berkata sambil pura-pura melotot dan
menunjukkan cakar-cakarku laksana serigala yang akan menerkam mangsanya.
“Tunggu sebentar mas, akan aku jelaskan permasalahannya…”
Tyas mendekat padaku lalu menjelaskan apa yang dimaksud sambil membawaku
terbang dengan sayap-sayap cintanya. Angsa putih itu menunjukkan
ketangkasannya, meliuk-liukkan tubuhnya di angkasa dengan manufer-manufer
tajam sehingga membuat tubuhku ikut melayang-layang bersama Adrenalinku.
Sukorejo, 21 Juni 2007
Penulis
Paryanto

1 Komentar

  1. utoro berkata,

    Juli 9, 2009 pada 5:37 am

    tokoh-tokohnya terinspirasi seseorangya?


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.