Sejenak kulihat jam yang tertera diponselku,sudah jam 4 sore, saatnya aku harus pulang, tapi niat ku urung karena tiba-tiba ada suara teriakan yang memanggil-manggil namaku “Mas Yanto, sini tak kasih tahu, aku dapat miscall tak di kenal nich….” Teriak Mbak Amy padaku, disore yang cerah itu. Akupun bergegas menghampirinya sambil melihat-lihat phonebook ponselku yang barang kali aku punya nomer itu, tapi ternyata tidak ada, “mbak sendiri sudah sempat kenalan belum?”
“Sudah, namanya Ana anak kelas dua SMU, tadi kita sudah sms-an”.”Dan Mbak juga sudah beritahu nama Mbak?”,” itu dia mas, aku mengaku namanya Andree, aku bingung dan takut soalnya dia ngejar banget deh”
“Halo Assalamu’alaikum ”rupanya kali ini Ana sengaja telepon untuk memastikan bahwa yang diajak kenalan itu benar-benar cowok”
“Waalaikum salam, lho kok cewek, katanya Andree?”
“Oh aku kakaknya Andree, tadi Andree pinjam ponsel aku”
“Oh gitu… ya sudah mbak, selamat sore…”
Lantas mbak Amy pun bergegas menemuiku, sepertinya sangat khawatir sekali.
“Mas ia tadi telepon aku, gimana dong”
“Begini saja mbak, jangan takut, nanti aku akan sms ke nomer itu saja dan menyatakan bahwa aku adalah Andree dan mbak adalah kakakku”
Beberapa saat kemudian “Halo aku Andree ini nomerku, tadi itu nomer kakakku, lagi apa nich?”kira-kira begitu tulisan yang aku buat.
“Aku lagi masak, kan nanti aku berangkat sore, mas Andree lagi ngapain? “jawaban Ana lewat sms pula”.
“Aku lagi ada di Semarang, dan sebentar lagi mau pulang”
“Okey hati-hatilah dijalan”.
Sejenak pikiranku berontak, aku sudah berbohong, tapi sudahlah tadi itu balasan bagi orang-orang yang suka iseng”, hiburku pada diriku sendiri.
Pagi yang dingin membuatku enggan untuk melepas selimut yang menyetubuhi aku setiap malam, tapi pagi itu menjadi terasa hangat saat membaca pesan singkat dari Ana.
“Pagi mas Andree, sudah bangun belum, bangun dong kan sudah jam lima”
“Pagi mas Andree sudah bangun dan sholat subuh belum?”
Dan hampir tiap pagi dia setia membagunkan aku, serasa dia menemani aku setiap kali fajar menyingsing, sejenak pikiranku melayang dan berinkarnasi pikiran ke tempoe doeloe.
“Selamat siang mas Andree, sudah makan belum ngomong-ngomong mas Adree masih sekolah atau sudah kerja?” begitu tulisan yang kubaca dilayar phonsel aku, kali ini aku memang sangat keterlaluan, jariku menari tanpa kenal dosa menecet-mencet keypad mencari huruf-huruf rekayasa dan kebohongan yang sama sekali tanpa sadar aku telah membohongi Anak SMU yang sedang santer-santernya mengenal asmara, yaitu Ana.
“Aku masih sekolah, aku belajar di semarang ambil jurusan seni rupa” balasku kemudian.
Ah! Seni rupa apanya, terus bagaimana kalau dia tanya semester berapa, kos dimana, fakultas mana, sedangkan aku padahal seorang bapak dan seorang suami yang dua hari sekali memberi jatah belanja isterinya kurang dari 25.000,- Ah! Aku sudah berdosa pada anak yang masih polos dan lugu sebaya dengan keponakanku sendiri, gombal!!
“Sori mas baru bales, aku dari makam bapakku dan nanti malam mau bantu-bantu ibuku masak karena akan ada tahlilan dirumahku”. Ana membalas smsku sore itu, begitu pesan singkat ku baca, kubaca lagi, kubaca lagi sampai tiga kali seakan-akan aku tak percaya bahwa aku telah dengan sadar dan terang-terangan membohongi seorang Anak yatim, maafkan aku Ana, maafkan aku Tuhan…
Apakah aku harus berhenti disini? Tidak ! itu hanya menambah sakit hati Ana saja, itu karena Ana dan aku sudah dekat, dekat sekali, meski kami belum pernah bertemu sekalipun, tapi cinta adalah soal hati, soal perasaan, kalau aku berhenti disini itu artinya aku telah mempermainkan perasaan Ana. Sedangkan aku tahu bahwa Ana beru saja ditinggal kekasihnya. Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku tak tahu, aku mengalir saja mengikuti arus yang dibawa Ana, seperti layaknya sesuatu yang aku tinggalkan tiap pagi di kali belakang rumahku, kotoranku sendiri.
“Memangnya mas Andree rumahnya dimana sih? “sms Anak suatu ketika.
“Aku tidak punya rumah, aku makan, tidur dan segala macam masih ikut orang tua” begitu balasanku sambil rasanya mau mecabik-cabik otakku sendiri mulutku mengangga dan tatapanku kosong bersamaan dengan datangnya tulisan pesan singkat yang terkirim dilayar ponselku.
“Aku tahu mas sekarang belum punya rumah, aku juga belum punya maksudku kalau mas melukis aku mau lihat mas melukis gitu saja, okey deh aku doain supaya mas cepat-cepat punya rumah, entar kalau bisa aku bantu deh” rasanya bagai disambar trailer pengankut semen setelah kubaca sms Ana. Berarti Ana telah nenaruh harapan yang sangat kuat padaku, aku tak kuasa, berbagai pertanyaan menghantuiku, apakah aku harus berselingkuh ? apakah Ana sekarang ini telah kembali merasakan kebahagiaan yang tertunda? Berbagai inisiatif telah aku pikirkan dan hasilnya aku harus meneruskan kisah ini aku tidak mau merusak suasana hati Ana. Aku terlalu kasihan, terlalu sayang, dan mungkin aku telah jatuh cinta lagi. Ah tidak! Ana mencintai Andree, dan Andree adalah otak dan jariku semata, aku aman, karena, aku hanya teman baik Andree setahu Ana, dan Ana tahu itu. Ana terus ada dalam pikiranku tak dapat kupungkiri bahwa separuh jiwaku telah dicuri oleh Ana, aku tetap harus jadi aku, tak boleh jadi Andree manapun. Karena aku telah berkeluarga, punya Anak yang sudah TK, istri yang setia, rumah, pekerjaan, kurang apa aku? Aku tak mau masuk kedalam golongan orang-orang yang tamak, serba kurang, dan berengsek, bah!
Aku semakin penasaran pada Ana, itu karena tulisan dan kalimat-kalimatnya yang sangat santun, penuh perhatian, seolah-olah bukan tulisan Anak SMU yang baru mengenal cinta.
Strategipun kulancarkan untuk menuruti emosiku lewat phonselku yang tidak laku dijual itu. “Ana, maukah kamu kapan-kapan mampir ke kios mas Yanto? Kalau bisa hari minggu besok gimana ? kayaknya aku pulang deh… “ Aku melepaskan kalimat itu sambil dalam hati berkata terkutuklah aku, hukumlah aku sekarang juga Tuhan… tapi Tuhan memang maha Bijaksana, aku anggap Tuhan telah memberikan kenikmatan rasa yang lain kepadaku, rasa nikmatnya mendua, tapi sayang kali ini aku gagal bertemu Ana, karena Ana belum tahu tempatnya mas Yanto, yaitu aku sendiri. Suatu ketika Ana sms menanyakan keberadaanku, itu sangat realistis, dan aku memakluminya, dan kinilah saatnya aku melihat seberapa besar cintanya padaku, aku membimbingnya lewat kata-kata yang mungkin belum pernah Ana dengar. “Kamu mau tahu Ana, aku sekarang ada dimana? Caranya begini kamu harus konsentrasi, pejamkan mata, tarik napas dalam-dalam, hembuskan pelan-pelan dan rasakan… setelah itu jawabanmu aku tunggu ya…” “Mas Andree… sekarang aku tahu dan aku tak bisa bohong bahwa kamu ada disini, di hatiku…” Brak!!!… rasanya aku ditendang jauh sekali oleh raksasa sambil matanya merah, melotot, aku sadar bahwa mungkin arwah Bapaknya tidak terima kalau Anaknya aku perlakukan seperti itu, aku telah membuat Ana jatuh cinta sama Andree, yaitu diriku, diriku yang lain.
Aku lemas dan rupanya Ana telah sampai sejauh itu, lalu apa yang kudapat? kebahagiaankah?… Toh aku tanpa begitupun telah bahagia… Ah, aku anggap membahagiakan orang lain itu sama juga sebuah pahala aku bisa melakukanya sekarang, tapi soal harapan – harapan Ana? Aku tak tahu, yang aku tahu aku tak boleh jatuh cinta pada Ana, meski aku yang lain telah jatuh cinta, yaitu Andree, itu karena aku adalah sang aktor. “ Mas maaf mas baru bales, karena kerabat aku ada yang meninggal, “Emang siapa yang meninggal?” “Kakekku…” Begitu selesai membaca pesan singkatnya hilang sudah pikiranku, oh tuhan… bagaimana aku sekarang? Haruskah aku datang pura-pura mewakilkan Andree? Itu tidak mungkin, karena aku bukan siapa-siapanya Ana dan Ana tidak tahu siapa aku. Aku harus ambil siasat dengan membalas bahwa aku disemarang kek, lagi sibuk kek… Ah !!! pengecut!” Nggak apa-apa kok mas Andree, lagian mas Andree lagi sibuk, pokoknya mas disana jangan terlalu banyak pikiran karena aku ya… aku doakan supaya mas sukses bikin sekripsinya” Mataku pedih, kepalaku tertunduk lemas, pikiranku kosong seperti dompetku yang dari pagi belum terisi.
Suatu malam ketika ponselku bergetar… kubuka dan kubaca satu – persatu susunan kata yang dibuat Ana. “… Mas Andree, aku ingin lihat kamu hadir disini…” “Aku kira tidak bisa sekrang deh Ana, kamu tahu kan? “balasku.” Ya aku tahu mas aku akan lihat kamu lewat mata hatiku, memang aku tidak bisa lihat, tetapi bisa merasakan kamu hadir disini, dihatiku, selalu setiap waktu selamanya…” Rupanya jawaban Ana membuktikan bahwa aku telah berhasil mencuri hatinya, melambungkan harapan-harapan, dan menikmati apa yang ia rasakan saat ini, “Ana kamu sudah kena”. Bisikku dalam hati. “Tuhan memang mengaugerahkan kita kenikmatan yaitu sebuah rasa dan rasa yang sangat kuat itu bisa menyatukan dua insan yang saling sayang, membutuhkan satu sama lain meskipun orang itu belum pernah bertemu sekalipun.” Begitu kira-kira penggalan kata mutiara dari Ana yang membuatku pusiang tujuh keliling. Sempat suatu ketika aku akan mengatakan diri aku yang sebenarnya, tapi aku tak tega, aku terlalu sayang, tapi kalau aku teruskan apa tidak menambah sakit hati Ana? Sedangkan pada dasarnya Andree tak mungkin bisa muncul, karena sosok Andree semu, hanyalah cip kartu ponsel yang ku pakai.
Dan karena sosok Andree adalah jiwaku belaka, tak punya raga tak punya tempat tinggal, hanya didalam hati Ana saja Andree berada. Lantas apa arti cinta mereka? Ana, sebenrnya aku bukanlah Andree yang kamu kira, kamu salah Ana, aku tak bisa kamu miliki secara utuh sedangkan kamu sangat berharap sekali. Harapan-harapanmulah yang membuatku bersedih,aku sangat menyesal,maafkan aku Ana…’’Jadi mas Andree selama ini tidak jujur ya,mas sebenarnya siapa sih,tak mungkin sebuah cip kartu ponsel bisa mengoperasikan sendiri kan?kalau mas tidak jujur sama aku tidak apa-apa kok,tapi paling tidak mas jujur pada diri sendiri, pada hati mas, mas Andree aku teteskan air mataku untukmu…
”Kamu tidak megerti Ana, kamu tidak paham sayang… Karena apa yang aku katakan itu memang benar adanya”.
“Mas Andree, aku perlu tahu siapa mas sebenarnya, kamu tahu aku suka orang orang yang jujur, apa mas dulu sudah sempat kenal aku? Mas nggak mau kan aku banyak pikiran karena penasaran…”
”Ugh!… terasa sekali tonjokan Ana, bahwa Ana mulai mencium kebusukan dan kebohonganku, aku tak bisa berbuat banyak, aku hanya pasrah, dalam kondisi ini aku terasa bagaikan manusia tanpa wajah, kuraba dari jidad sampai dagu, rata, rata sekali”
“Ya sudahlah mas, aku pasrah saja pada Allah, biarlah ku anggap kamu itu temanku yang paling baik, yang mau menerima curhat aku, memperhatikan aku, menemaniku setiap tidur malamku karena hanya Allah lah yang tahu semua yang mahlukNya sembunyikan, aku hanya bisa berdo’a semoga mas dibukakan pintu untuk bisa jujur padaku, orang yang iklas mencintai mas apa adanya.
” Ana sebaiknya aku tulis surat saja untuk kamu, supaya kamu paham, supaya kamu tahu siapa aku sebenarnya, akan ku titipkan surat itu besok di tempat mas Yanto, kamu ambil disana”.
Ana, sebenarya aku adalah pengarang cerpen remaja yang sedang mencari inspirasi, aku harus mematuhi aturan-aturan mengenai batasan-batasan profesonelisme dalam berkarya, maafkan aku jikalau aku selama ini bohong padamu, meski sebenarnya dalam hatiku juga ada kamu, ini aku buat seolah-olah nyata bagimu, walaupun sebenarnya tokoh-tokoh didalamya fiktif belaka. Andree itu tak pernah ada, itu hanya rekayasaku saja, mengenai nama Amy, Adi, dan Andine juga tak pernah ada, itu sengaja aku buat supaya terkesan real, terkesan keberadaanku kau anggap nyata, maafkan aku Ana, tapi aku pasti akan tetap menghubungi kamu itu kalau kamu bersedia, dan aku masih mau menerima curhat kamu, aku akan selalu ada untuk kamu, kalau masih mau memerlukan aku hubungi nomer ini. Aku bersedia kapanpun kamu mau. Andree-mu.”
Begitulah kira-kira petikan suratku, dalam hati berkecamuk berbagai pertanyaan apakah Ana jadi putus asa? Dan apakah Ana masih mau menghubungi nomerku? Oh Ana… Andai kamu tahu, andai aku punya sosok “Andree” itu sekarang juga, pasti aku tidak akan membuat cerita busuk ini. “ Tidak apa-apa mas, aku terima, mungkin ini sudah takdir aku dan janganlah mas menyalahi aturan-aturan profesionelisme itu, aku bangga jadi Ana, sosok Ana yang dimuat dalam cerpen mas. Aku rela, aku ikhlas, dan aku akan membantu mas menyelesaikan cerita yang mas buat agar tidak buntu. Aku ikhlas melakukanya demi mas, jangan disesali dan jangan bersedih karena itu akan membuat mas pusing, dan aku akan selalu ada untuk mas, mas Andree ku… ku teteskan air mataku untuk mas…” Tak terasa sekujur tubuhku nyeri semua, lemah, tak ada tulang, kerangka, dan rasanya darahku berhenti mengalir setelah aku baca pesan singkat dari Ana. Aku semakin tak tega, sunggug bijaksana hati Ana, merelakan perasaanya dipermainkan oleh orang berengsek seperti aku, orang yang mengaku sebagai pengarang, orang yang paling disayangnya, Andree…” Halo mas Andree, lagi apa? Sudah dibikin belum cerpennya? ada yang bisa aku bantu tidak? aku masih Ana yang dulu kok.” Begitu selesai ku baca, mataku tertuju pada tulisan “Andree” sedih sekali aku melihatnya, rasanya tanganku gemetar, dingin… ingin sekali aku teriak sekeras-kerasnya. “Oh ya mas sekarang aku mesti panggil kamu siapa?” Aku harus membalasnya, khusus untuk Ana! “Panggil saja aku Andree, Ana.” Aku mengerutu sendiri seperti orang gila.
Semakin ku ingat nama Andree semakin pedih pula rasanya hati ini, Ana aku benar-benar berdosa padamu, pada orang yang tulus ikhlas menyayangiku, dan menaruh harapan besar padaku, pada orang yang sudah beristri, padaku. Dan kamu belum tahu yang sebenarya, aku tak akan mengaku-aku bahwa akulah sebenarnya Andree itu. Itu hanya membuat kamu bingung saja, biarlah waktu yang menjawabnya, biarlah Ana tahu dengan sendirinya, karena sepintar-pintarnya orang menyimpan bangkai pasti lambat laut pasti akan tercium juga, dan aku sangat menyadari ungkapan itu. Seperti yang telah aku katakan pada Ana, bahwa Ana kalau mau kirim sudat lewat mas Yanto saja. Anapun setuju karena belum tahu bahwa mas Yanto itu adalah Andree-nya, dan Andree adalah aku. Kubuka sampul surat warna putih dan sepertinya isteriku sudah berusaha membukanya, tapi tidak jadi, aku tahu mungkun isteriku curiga dan ternyata memang curiga.
Kepada mas Andree-ku.
Assalamualaikum Wr. Wb. Mas suratmu telah aku baca, mas kamu tidak salah padaku jadi kamu tidak perlu minta maaf padaku aku juga suka kalau mas jujur, soal waktu pikiran dan perasaanku jangan terlalu mas pikirkan karena aku iklas melakukannya. Apalagi itu bermanfaat dan bisa membantu orang lain.
Aku sekarang sudah tidak penasaran lagi tentang siapa mas yang sebenarnya, aku juga senang dan bangga mempunyai teman seorang seniman meski nama sebenarnya aku tidak tahu, tapi biarlah waktu yang menjawabnya. Aku mungkin tidak tidak akan tahu siapa mas untuk saat ini tapi aku masih punya harapan untuk mengenalnya, karena Allah masih akan selalu ada untuk hambaNya dan Dia akan senantiasa membantu hamba-hambaNya yang mau berusaha dan memerlukan pertolongan darinya. Andree memang tidak akan pernah berujud karena nama itu hanya ada dalam cerita. Tapi nama Andree akan selalu ada dihatiku karena ia sempat hadir dan memberikan motivasi dalam hidup dan hari-hariku. Mas pengarang aku tidak akan pernah mencacimaki orang meski orang itu berbohong padaku. Karena aku juga tak ingin nantinya orang mencaci maki aku hanya karena sebuah kesalahan. Mas kalau mas masih memerlukan aku untuk inspirasi dan menyelesaikan cerpen yang mas buat aku selalu siap dan ada untuk membantu mas, karena itu juga kalimat yang aku ucapkan untuk mas Andree. Mas aku juga berterimakasih kepada kamu karena aku bisa merasakan rasa cinta dan sayang seperti dulu, yang pernah aku rasakan sebelum paarku pergi meninggalkan aku. Aku sekarang sudah sangat lega aku juga tidak akan pernah marah dan benci sama mas karena kita sama-sama mahluk ciptaan Tuhan.
Mas, pesan mas akan selalu aku ingat, aku akan tetap belajar yang rajin dan membantu orang tua. Kaena hanya itu yang bisa aku lakukan untuk orang tuaku sekarang. Terimaksih banyak karena mas akan selalu membacakan surat yasin untuk arwah bapak dan kakek aku. Aku Ana, masih akan menyediakan “rumah” untuk kamu meski tak terhuni dan aku juga akan tetap jadi teman yang baik untukmu, serta sahabat yang selalu ada untuk kamu.
Wassalamualaikum wr. wb. Ana
Sangat terasa sekali desiran aliran darahku dari ubun-ubun sampai telapak kakiku setelah aku baca surat dari Ana. Aku menangis, jiwaku tersayat, aku tak kuat, kurebahkan badanku meski ku tahu tanpa alas tikar di ruang tengah rumahku, kotor kurasa, sekotor otakku, setamak pikiranku. Oh tuhan dosa apa yang telah dilakukan Ana sehingga ia mengalami situasi sekarang ini? Situasai yang aku buat situasi yang sekedar menghiburku disela-sela urusan-urusan hidupku. Situasi yang tak sebanding dengan honorku sebagai pengarang, sebagai pembohong besar. Itulah aku, Andreemu Ana. Tuhan kuatkan batin Ana dan tabahkanlah dia. Aku akan selalu jadi Andreemu, meski semu, selamanya… Ana panggil saja aku Andree, agar kamu merasa terhibur.
Sukorejo April 2007
Penulis,
PARYANTO